June 19, 2010

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 13 - Romantisme Bertauhid

Pesantren Online

Pagi ini, tanggal 6 September 2008 saya diundang menjadi tamu dalam acara Apa Khabar Indonesia edisi akhir pekan. Tema nya: Pesantren Kilat. Oleh bagian produksi saya diminta untuk menyinggung soal KuliahOnline.

Apa kesibukan Ustadz di bulan Ramadhan ini? Tanya pembawa acaranya. Saya jawab, bahwa salah satu kesibukan saya adalah menggawangi Pesantren Online.

Entahlah, tapi sebutan ini langsung direspon oleh pemirsa yang melihat. Bagaimana dengan Peserta semua? Berkenan memberi tanggapan?

Tapi saya berusaha tetap konsisten. Saya berusaha menggiring peserta untuk hanya melihat, dan mengikuti sesi Kuliah Tauhid ini saja dulu. Sebutan Pesantren Online ini sungguh menggoda. Insya Allah kita akan coba buatkan tim khusus yang merriset dan kemudian merilis Pesantren Online ini. Dan rasanya, tidak perlu dikaitkan dengan momen Ramadhan saja. Artinya, biar saja ide Pesantren Online ini terus kemudian bergulir hingga ia menjadi mirip seperti pesantren pada umumnya, hanya bedanya ia bersifat maya.***

Supir Saya

Kita tidak mengenal Allah. Itu yang menyebabkan kita tidak menyambut kedatangan-Nya. tidak di shalat fardhu, dan lebih tidak lagi di shalat tahajjud. Beruntunglah orang-orang yang tahu bahwa Allah itu selalu datang. Datang dengan segala karunia-Nya, datang dengan segala pertolongan-Nya.

Untuk kemudahan berkendaraan, Allah karuniakan saya supir. Saya tidak menganggap supir saya ini lebih rendah dari saya. Malah saya seringkali membesarkan hatinya, bahwa kemana saya ceramah, maka dia dapet juga pahala kebaikannya. Asal dia mau membaca basmallah dan berdoa agar amalan ceramah saya, pun ia dapatkan.

Namun, ketika saya tidak mendapati supir saya tepat waktu, tidak kurang saya pun suka terbersit rasa kesal. “Bagaimana sih? Udah tahu mau jalan, koq malah ga ada?” begitu saya berpikir.

Di satu waktu, saya memberitahu supir saya, agar dia standby langsung di depan lobi satu tempat, sebab sudah akan jalan lagi ke tempat yang lain. Dan saya sudah wanti-wanti dengan sangat. Yang demikian itu, agar tidak jadi hambatan bagi perjalanan saya. Tapi rupanya dia tidak mengindahkan. Begitu saya keluar, dia tidak ada. Begitu saya telpon, katanya sedang ngantar saudara saya ke depan jalan utama, mencari taksi. Saya marah, namun, bersabar rasanya lebih baik. Karena saya tidak bisa menunggu lebih lama, saya bilang sama dia, saya naik taksi saja juga dah. Dan dia saya suruh pulang. Ada suara bersalah di ujung seberang HP sana. Namun saya tidak mau berlama-lama lagi. Saya tutup telponnya dan saya segera mencari taxi. Sebelum taxi yang saya pesan, sampe, supir saya sudah datang dan meminta maaf.

Sekarang saya sadar, bahwa selama ini saya sering mengecewakan Allah, Tuhan saya yang sudah demikian baik kepada saya, kepada keluarga saya, kepada semua manusia. Dan sekarang saya membiarkan Allah menunggu saya…

Saya tidak dapat membayangkan, andai yang mengucapkan kalimat: “Tunggu ya Pak!”, adalah supir saya. Ya, ketika saya perlu dia, dia lalu mengatakan itu. Lebih konyol lagi kalo dia bilang, Pak, kalo ga sabar, silahkan saja naik taxi ya. Saya makan dulu… (???!!!). Wuih, saya tidak dapat membayangkan, apa yang saya akan lakukan terhadap supir saya itu.

Lebih lagi saya tidak mampu membayangkan jika saya lah yang menjadi supir buat majikan saya. Saya harus selalu standby buat majikan saya. Lalu kenapa kita tidak pernah siap siaga untuk Allah, Tuhan kita?

Disebut siap siaga bila kita selalu stel panca indera kita. Kita, menjadi weker, atau alarm, untuk diri kita sendiri. Selalu waspada setiap waktu shalat datang. Syukur-syukur bila kita mau menjaga wudhu kita. Jadi, ga perlu mengantri ketika saat shalat datang. Makin cepat kita datang kepada Allah, rasanya hidup kita akan didahulukan ketimbang orang-orang yang selalu telat datangnya. Makin kita bergegas menuju Allah, menyambut Allah, doa-doa kita pun akan semakin cepat dikabul, masalah-masalah kalau datang cepat selesainya, hajat kalau ada bisa Allah segerakan pencapaiannya. Tapi apa boleh buat. Selama ini kita menyadari bahwa sama yang namanya shalat, kita jarang mementingkannya.***

Romantisme Bertauhid

Allah, Yang Maha Perkasa, selalu mendatangi kita. Disambut tidak disambut, dilayani tidak dilayani, dengan Kasih Sayang-Nya, DIA selalu hadir di kehidupan kita. Lantaran tidak mengenal-Nya, kita lalu menjadi manusia-manusia yang kehilangan momen berharga bertemu dengan Pemilik Dunia ini. Subhaanallaah.

Masih seputar supir saya, alangkah manisnya bila kemudian ketika saya keluar dari satu tempat, dia sudah standby dengan mobil yang AC nya sudah dingin menyebar ke seluruh kabin mobil. Lebih lega lagi saya kalau kemudian mobil itu bersih luar dalem dan wangi. Tambah bangga saya, kalau kemudian ia turun dari mobilnya, lalu dengan sopannya membukakan pintu mobil untuk saya.

Saya seperti raja, he he he. Tapi ya, sehari-hari saya tidak demikian. Ini kan cerita “alangkah manisnya”. Bukan yang sebenarnya. Tapi logika ini mau dipakai untuk menunjukkan kesiapan kita dan kesopanan kita terhadap Allah. Ternyata, jauh sekali dari yang semestinya.

Mestinya, jangan Allah yang menunggu kita. Tapi kita yang menyambut kedatangan Allah. Kita sudah siap siaga sebelum datangnya waktu shalat. Kita sudah siap siaga sebelum muadzdzin mengumandangkan azannya.

Bagi yang mengingat masa-masa pergi haji atau umrahnya, koq bisa ya kalo di tanah suci kita melangkahkan kaki kita ke masjid, jauh sebelum azan? Bahkan ada yang tidak beranjak dari masjidil haram atau masjidin nabawi, memilih untuk menunggu datangnya waktu shalat yang lain.

Coba diprogram hidup kita, dengan menyetel ulang jadwal ibadah kita. Mari kita sambut Allah. Jangan biarkan lagi kita yang ditunggu Allah.

Syukur-syukur kita mau menyambut Allah dengan pakaian yang lebih bagus ketimbang kita menemui manusia. Kalaupun tidak, siapkan wewangian khusus untuk menyambut Allah yang kita pakai hanya ketika menghadap-Nya. Kita kemudian tegakkan shalat-shalat sunnah. Kita datang sebelum waktu azan… Duh, indahnya…

Saya kadang suka iseng membayangkan, Allah turun dengan Malaikat-Malaikat Pengiring-Nya. Allah memasuki masjid dengan Anggun-Nya, penuh Wibawa, penuh Pesona. Lalu saya menoleh ketika Allah datang, lantaran saya sudah di dalam masjid duluan. Lalu Allah tersenyum kepada saya dan saya katakan, saya sudah di sini ya Allah. Saya sudah di sini.

Begitulah. Asli. Candaan iseng, bayangan iseng ini, senang sekali saya bayangkan. Sehingga hati ini senang betul mengambil air wudhu untuk tajdiidul wudhu (memperbaharui wudhu). Saya ingin Pencipta saya senang bahwa saya betul-betul mengabdi pada-Nya. Saya belum mampu mengabdi banyak, ya dengan cara beginilah dulu. Tampil di muka ketika shalat. Subhaanallaah.

Begitu pun ketika masa shalat tahajjud. Ketika saya terbangun, saya bayangkan bahwa Allah yang membangunkan saya. DIA berada di samping saya, dan membangunkan saya dengan penuh Kelembutan dan Kasih Sayang-Nya. Masya Allah. Bertentangan tentu memvisualkan hal-hal seperti ini. Tapi inilah saya. Romantisme bertauhid dengan Allah menjadi sangat nyata buat saya.

Ketika saya pedengerkan keluhan saya, saya bercerita kepada yang melebihi sahabat dekat saya. Saya perdengarkan keluhan-keluhan saya tentang kejadian-kejadian hidup yang saya lewati, detail, pelan-pelan. Pakai bahasa sehari-hari dengan tetap memperhatikan kesantunan, adab, kesopanan layaknya saya bicara dengan Tuhan Pemilik Alam ini. Tapi ya itu, visualisasi bahwa saya sedang bercengkrama dengan-Nya, saya usahakan betul, agar Allah hadir di hati saya.

Dalam suasana sentimentil, misalnya sedang marah, sedang kecewa, sedang sangat senang, atau sedang sangat sedih, biasanya manusia sanggup bercengkerama dengan Allah. Rahasianya barangkali karena hatinya dihadirkan untuk berdioalog dengan Allah. Semoga kita bisa senantiasa menyambut Allah dan bermesra-mesraan dengan-Nya. Kendalikan perasaan dengan memprogramnya. Sehingga kapanpun, romantisme bertauhid bisa senantiasa kita rasakan. Kepada-Nya lah semua urusan dikembalikan. Kita berdoa terus agar Allah berkenan memperkenalkan diri-Nya kepada kita dan kita bisa mengenal-Nya. Amin.

Yusuf Mansur

August 28, 2009

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 12 - Dapat Apa Dari Dunia…?

Daarul Qur’an Method

Kita sering habis-habisan berbuat untuk sesuatu yang justru akan kita tinggal.
Sedang untuk sesuatu yang bakal abadi, sering kita tidak sungguh-sungguh.


Sore tadi saya berbincang-bincang sebelum ashar dengan X, wali murid dari santri kami yang bernama Ayu. Alhamdulillah, selama Ramadhan ini, Pesantren punya kegiatan buka puasa dan tarawih keliling ke wali-wali santri. Mereka senang-senang. Sudah mah bias melihat anaknya pulang, mereka bisa kedatangan kawan-kawan dari anak-anaknya dan para dewan guru pesantren. Tambah senang lagi mereka bahwa saya menyatakan saya pun bisa mendampingi. Dan kegiatan tarawih 1 juz 1 malam tetap bisa berlangsung. Yakni di kediaman tuan rumah, atau di mushalla/masjid di sana, yang bisa mengikuti tarawih 1 juzan ini (tidak semua mushalla berkenan, mengingat stamina jamaahnya yang belum tentu sanggup mengikuti tarawih begini).

Nah, Pak X ini rupanya juga peserta KuliahOnline Wisatahati. Saya senang sekali. Ini kan sama juga dengan saya mengisi ruh, hati dan pikiran para wali santri. Saya baru sadar, oh iya ya, kenapa saya tidak wajibkan saja para wali santri mengikuti KuliahOnline ini. Insya Allah kalo visi misi nya sudah sama, hatinya juga sama-sama tesambung ke Allah, maka ini akan mempermudah perjalanan menuju perubahan yang dikehendaki. Perubahan bermodalkan ridha Allah.

Pak X ini bertanya kepada saya, kapan ustadz ada waktunya? Saya bilang, insya Allah saya sempatkan. Hari ini saya terlambat mengupload sebab alhamdulillah saya dikasih “ga enak badan”. Saya masih harus ikut memimpin tarawih 1 juzan, dan kemudian saya diamanahkan Allah beberapa kegiatan. Tumbang juga. Saya pikir, besok saja (tadi pagi maksudnya), habis shubuh, habis siaran langsung di TPI jam 05.00-05.30. eh, malah tumbang beneran. Istirahat, bangun-bangun jam 11! Alhamdulillahnya udah sempet dhuha waktu menginspeksi anak-anak santri di Pesantren. Masya Allah, maafkan saya ya.

Pak X ini juga bertanya tentang materi, beliau bilang, statement Ustadz menarik juga tuh. Saya tanya, statement yang mana? Kalimat yang mana? Itu, ketika Ustadz bilang, bahwa materi besok (hari ini), adalah bagaimana kita meninggalkan dunia, tapi tetap mendapatkannya?! Bagaimana tuh caranya?

Begini, sebentar lagi ashar kan? Kata saya. Nah, ketika azan ashar, atau malah di pesantren mah sebelum ashar, kita sudah harus meninggalkan dunia kita. Untuk menuju Allah. Itulah yang dimaksud belajar meninggalkan dunia sekaligus mendapatkannya. Tidak sungguh-sungguh meninggalkan dunia, hanya harus tahu kapan kita bekerja, kapan kita beribadah kepada Allah. Sampe sini, ada yang mengatakan, kan kerja juga ibadah? Iya, betul. Bagus malah. Tapi jangan sampe meninggalkan dan melalaikan ibadah mahdhoh (wajib) nya.

Saya menceritakan kepada beliau, bahwa saya punya kawan yang buka toko sepatu. Satu hari ia berkhidmat kepada agama. Dia memilih khuruj (keluar 3 hari sampe 40 hari) ala jamaah tabligh. Tokonya ia atur sebaik-baiknya sebelum ia meninggalkannya. Ia aturkan karyawan-karyawannya, ia amanahkan sebaik-baiknya tokonya ini kepada anak buah dan saudaranya. Dia mengaku, toko sepatunya malah mendapatkan hasil lebih.

Ada seseorang yang berkhidmat kepada seorang kyai. Ia bantu kyai ini, ia temani kyai ini keliling daerah. Sementara ia punya usaha pabrikan rumahan pembuat mesin pengering nangka dan pisang. Biasanya dia hanya mampu menjualkan 1-2 mesin saja per bulan. Ini dia mengaku dia bisa menghasilkan sampai 5 mesin, per bulan!

Seorang anak muda datang bersama istri dan keluarganya. Minta nasihat agar dikuatkan mentalnya untuk jadi ustadz di pedalaman. Tapi keluarganya bingung. Ia selama ini kerja di pabrik. Gajinya 800rb, masih ada bonus-bonus dan tunjangan ini itu. Tapi itu pun seringnya nombok, dan punya hutang. Panggilan hatinya kuat sekali untuk berdakwah. Karenanya ia pamit untuk kemudian menjadi dai pedalaman. Niatan ini lumayan disetujui, sekaligus jadi beban pemikiran istri dan orang tuanya. Bergaji saja engga bisa hidup pas-pasan (nombok), apalagi kalo sampe ga punya gaji sama sekali. Saya perkuat hatinya, bahwa kalau memang sudah bulat, syaratnya jangan mengeluh. Insya Allah, Allah akan mengaruniakan sesuatu yang lebih. Dan benar saja. Satu tahun kemudian ia bercerita, hidupnya lebih punya sekarang ini. Bulan pertama saja, gaji sebesar 50rb per bulan dari lembaga dakwah yang menaungi perjalanannya ini malahan utuh. Apa sebab? Allah menanggung hidupnya. Orang-orang kampung yang diajarnya digerakkan Allah untuk memberikan sebagian hasil panen penduduk kepada dia. Malah katanya lebih hingga bisa dijual untuk bisa membelikan sesuatu buat istri, anak dan orang tuanya. Masya Allah kan?

Seorang pemasar di bidang konstruksi, mencoba untuk hidup mementingkan Allah. Ia lalu menjadi memegang prinsip bahwa Allah itu segala-galanya. Rapat-rapat ia beritahu bahwa ia harus break 10 menit sebelum azan, dan klien-kliennya malah disuruh nunggu! Katanya, kalau berkenan menunggu, saya senang sekali. Tapi kalau ga berkenan menunggu, ya baiknya kita re-schedule jadwal yang nabrak waktu shalat, untuk dipilih yang tidak nabrak waktu shalat. Katanya, pernah kejadian, ada satu klien, yang direksinya itu “bule”. Si bule ini mempersilahkan dia mem-break, sebab ga mungkin di-re-schedule. Lalu apa yang terjadi? Meeting dicukupkan sampe waktu break saja. Batalkah? Tidak. Pemasar konstruksi ini bercerita, bahwa tuh bule merasa ga usah lagi harus diperpanjang masa diskusinya. Mengapa? Katanya, bule kini percaya sama dirinya. Dia sudah perhatian sama Tuhannya, pasti dia orang jujur, begitu kata bule ini meyakinkan. Dan bule ini masih menambahkan, bahwa dia disiplin dengan waktu audiensi bersama Tuhannya, pasti pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan kepadanya pun akan juga disiplin.

Seorang pengusaha makanan, mengubah kebiasaan (culture) perusahaannya. Biasanya ia ajarkan agar karyawannya sigap-sigap mencari dan melayani pelanggannya. Tapi apa yang terjadi? Setelah ia berkenalan dengan ilmu tauhid, ia berkeinginan mempraktekkan ketauhidannya ini di lingkup usahanya. Saya menyebutnya DAARUL QUR’AN METHOD. Dan inilah DAARUL QUR’AN METHOD. Apa yang diterapkan oleh si pengusaha yang diceritakan ini adalah metodenya Daarul Qur’an.

Eh, sudah azan maghrib. Saya buka puasa dulu ya. Ntar malem ba’da tarawih saya lanjutkan lagi.
***

Setelah buka puasa, shalat berjamaah, alhamdulillah saya lihat ada waktu sebelum isya-an dan tarawih. Baiklah, saya lanjutkan tanpa menunggu tarawih. Supaya bisa diupload malam ini juga dan dibaca. Besok, sudah materi baru.

Lanjut ya? Pengusaha makanan ini malah meminta karyawan-karyawannya menunda buka toko sekitar 20 menit dari jadual. Sementara jam masuknya, tetap. Untuk apa? Rupanya ia meminta karyawan-karyawatinya shalat dhuha dulu dan membaca al Qur’an 1-5 ayat! Dan ini ia wajibkan. Tanpa kecuali yang haidh. Lah, kan ga bisa shalat dan ngaji yang haidh? Ya, kata dia, tetap harus ada di tengah-tengah barisan yang mengingat Allah! Dia mau belajar dari kesalahannya selama ini, bahwa Pemilik Rizki selama ini ia abaikan. Dan ia dititipkan karyawan, kenapa juga ga dibawa ke Allah. Mumpung pasti didengar seruannya. Masya Allah. Pas zuhur, ia suruh bergantian melayani pelanggannya. Harus lebih banyak yang ke mushalla malahan. Ia beritahu pelanggannya bahwa yang muslim, bisa shalat zuhur dulu sambil menunggu makanan datang. Alhamdulillah.

Saya juga pengen tuh ngembangin usaha yang absen pertamanya adalah dhuha dan baca al Qur’an. Syukur-syukur bisa setoran hafalan al Qur’an. Kalau perlu, tamu-tamu yang datang harus ditanya sama sekuriti pintu gerbang pabrik/kantor, “Sudah shalat dhuha belum?”, bukan “Mau ketemu siapa?”. Sebelum azan, terdengar alunan suara merdu ajakan shalat, dan menjelang pulang, diperdengarkan bacaan-bacaan al Qur’an. Ah, indahnya.

Nah, di pesantren, yang kayak gini-gini, diberlakukan. Diusahakan diberlakukan. Saya sampe merapat ke pesantren, ngontrak/nyewa rumah di depan pesantren, agar bisa ngontrol yang begini gini. Biarlah santri-santri tidak menjadi santri yang pintar, asal ia bisa shalat tepat waktu, rajin shalat-shalat sunnah, ringan bangun malam dan puasa-puasa sunnah, senang berdoa dan mendoakan. Tentu saja, bukan pesantren namanya kalau santri-santrinya tidak pintar. Ucapan ini hanya untuk menunjukkan betapa kesalehan dan tahu Allah itu lebih penting dari segalanya.

Daarul Qur’an Method ini sudah mulai diadopsi oleh banyak perusahaan. Laporan satu demi satu berdatangan tentang perubahan. Terutama ketenangan, dan cara pandang terhadap dunia yang tidak lagi segalanya. Melainkan Allah lah yang segalanya. Alhamdulillah, subhaanallaah. ***

Dapat Apa Dari Dunia…?

Dunia harus dikejar. Karena di sini kita hidup. Namun akhirat juga harus diperhatikan. Sebab di sanalah tempat kita kembali. Inilah doa dan ajaran keseimbangan hidup yang diajarkan Rasulullah.

Peserta KuliahOnline yang saya sayangi. Tulisan berikut ini, tentang “dunia”, sesungguhnya sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari sebelum Kuliah Tauhid ini dirilis. Bareng dengan saya mempersiapkan ragam tulisan materi kuliah yang lain. Jadi, alhamdulillah. Ga kesulitan. Saya tinggal memeriksa ulang saja, dan menemplatenya.

Di usia saya yang kata orang masih muda ini, saya sering berpikir. Dikasih apa kita ini sama dunia? Belum meninggal aja, kita ini ga dikasih apa-apa. Punya mobil lebih dari satu, yang dipake tetep satu. Bener sih istri make mobil, anak-anak make mobil. Tapi kita kehilangan mereka nantinya. Mereka pun sering kehilangan kita. Coba aja baca bait-bait tulisan di dalam buku ini. Ada tulisan saya yang berjudul: punya suami kayak ga punya suami. Punya istri kayak ga punya istri. Punya anak kayak ga punya anak. Punya orang tua, kayak ga punya orang tua. Punya tetangga, kayak ga punya tetangga. Punya saudara kayak ga punya saudara. Punya kawan, kayak ga punya kawan. Akhir-akhirnya, punya agama, kayak ga punya agama.

Ada bintang-bintang yang begitu populer, lalu tenggelam berakhir masa kepopulerannya. Dunia tetap berputar, tapi kehidupannya banyak yang mati lampu. Populer sudah tidak. Merasa populer, masih. Mati, ada yang meninggalkan hutang. Ada yang begini ada yang begitu.

Sementara, tidak sedikit orang-orang kaya yang tidak bisa menikmati kekayaannya. Kekayaan yang dinikmati adalah yang di atas kertas. Bukan kekayaan yang sesungguhnya. Makan, tidak bersama keluarga. Dia di mana, keluarga di mana. Tidur tidak bersama keluarga. Dia di mana, keluarga di mana. Sibuk dengan urusannya. Kaya iya, tapi kualitas hidupnya? Layak dipertanyakan kalau ia menyempatkan diri merenung. Begitu gagahnya, dunia malah menjadikannya duduk di kursi pesakitan, disorot layar kaca duduk di kursi tersangka. Tidak sedikit juga pengusaha yang susah payah membangun rumah super mewahnya, tapi ia betul-betul sudah tinggal di penjara. Sungguhpun penjara ia bisa sulap menjadi ruangan super mewah, ya tetap saja penjara namanya. Rumah yang luar biasa ia bangun pun kalo ditanya dibangun untuk siapa? Ia kelak tidak mengerti juga jawabannya. Kalo dijawab buat anak-anaknya, nyatanya anak-anaknya studi di luar kota dan di luar negeri. Kalo dijawab untuk orang tuanya, nyatanya orang tuanya di kampung sana. Orang tuanya juga merasa percuma kalo maen ke rumah tersebut, sebab memang tidak ada siapa-siapa.

Di banyak blok perumahan mewah, justru banyak yang tidak berpenghuni. Ada yang berpenghuni, namun bukan penghuni asli. Melainkan hanya penyewa, atau bahkan pembantu. Sudah mah nempatin gratis, dikasih duit pula tuh pembantu dan ditanggung semua hajat dan keperluannya. Termasuk urusan-urusan air, listrik, dan kebersihan serta keamanan.

Adduh, mata saya ini koq ya merasa “bukan itu yang harus kita cari”. Itulah barangkali yang disebut dengan kesenangan yang menipu. Apanya yang senang? Cuma perasaannya saja. Atau cuma katanya saja.

Ada kawan yang membangun hotel, dan ia sekalian tinggal di situ. Tahukah saudara, di kamar mana ia tinggal? Di kamar yang biasa saja. Bahkan cenderung di kamar yang paling jelek. Sebab kamar-kamarnya disewain semua. Lihat, dunia bahkan mengambil semuanya. Kalo kamar yang itupun ada yang sewa, ia memilih tinggal di rumah di belakang hotel yang ia sewa dari penduduk dengan bayar tahunan! Ini kan gendeng.

Tapi, kalo kekayaan itu ada di tangan orang soleh, subhaanallaah, manfaat. Rumah mewah banyak dibangun oleh dia supaya duitnya berputar. Ia sewakan untuk orang-orang asing. Setelah berputar, hasilnya ia bikin untuk lebih menggerakkan ekonomi syariah di kampungnya. Subhaanallaah. Mobil dia beliin yang banyak, buat kemudian diberdayakan uangnya. Dapet uang, kemudian belanjakan dah buat orang susah. Punya uang, beli-beliin dah perusahaan-perusahaan sakit. Kemudian sehatin. Habis itu jual. Hasil penjualannya untuk membantu pesantren-pesantren dah. Mantab.

Saya barangkali terlalu sentimentil ya? Tapi baiklah, saya turunin sedikit tempo nya. Coba aja lihat 2 tulisan berikut ini... ***

Karyawan

Masih seputar dapet apa dari dunia? Jika kita memburu hanya dunia, maka sungguh, kita tidak akan dapat apa2. Makanya Allah dan Rasul-Nya mengajarkan, jangan hanya mengejar dunia. Kejar juga akhirat, dengan memperhatikan amal saleh yang menjadi bekal menghadap Allah. Banyak-banyak berbuat kebaikan. Dan utamanya, perbaiki cara kita beribadah. Jangan sampai mencintai Allah hanya di mulut saja. Sesungguhnya kita tidak mencintai Allah melainkan mencintai dunia.

Ada seorang karyawan yang kalo saya tanya, dapat apa situ dari dunia? Gaji situ buat apa? Wong buat kebutuhan situ aja kurang? Lalu ia jawablah pake kata hatinya. Kata yang paling jujur yang pernah ia dengar. Dan itulah jawabannya sendiri. Bukan jawaban orang lain. Apa katanya? Iya juga. Saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya berjuang untuk rumah yang sesungguhnya saya tidak tahu apakah kalau saya meninggal nanti rumah ini udah lunas atau belum. KPR nya, 15 tahun. Sekarang baru jalan 8 tahun. Sedang kematian tidak ada yang tahu.

Mobil yang saya dapatkan pun, kredit. Motor juga begitu. Barang-barang di rumah ini, rata-rata kredit. Ada yang kredit memang barangnya, ada yang dari kartu kredit. Begitu katanya.

Dapat apa dia? Semula ia berpikir ia sudah mencapai banyak hal. Ternyata tidak. Coba aja kalau dia sakit agak panjang. Sebut saja, sakit 4-5 bulan. Lalu ia di-PHK. Maka kemudian seluruh rencana keuangan, berantakan. Rumah, tidak lagi terbayar, lalu disita. Mobil dan motor lalu ditarik leasing. Lalu dia? Dapat apa? Ga dapat apa-apa. Rupanya selama ini ia hidup untuk bank di mana ia kredit rumah. Ia hidup untuk bayar kartu kredit yang ga lunas-lunas. Ia hidup untuk bayar leasing yang membengkakkan harga motor dan mobilnya sekian kali lipat. Banyak kemudian karyawan-karyawan yang terjebak oleh hutang yang tidak terbayar dan akhirnya bener-bener ga punya apa-apa.

Di situ kemudian menjadi peluang dunia industri asuransi. Ada asuransi ini ada asuransi itu. Ok, fine, ikut aja, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, jangan lupakan asuransi akhirat dengan shalat dan sedekah. Dunia, bakal hilang. Tapi Allah dan seluruh amal kita, ga bakal hilang.

Tidak sedikit dari mereka yang kemudian setelah semua aset yang dibelinya dengan acar berhutang, lunas, harus dijual kembali dengan harga murah. Sebab ternyata satu dua hal yang tidak terprediksi sebelumnya. Misal, adiknya masuk penjara sebab satu hutang. Itu kan bukan sebab dia. Sebab adiknya. Tapi orang tuanya mohon-mohon agar ia jual rumahnya untuk membantu adiknya. Orang tuanya lalu bilang, tinggallah dulu di rumahnya beliau. Manalah kita tega. Kita juallah rumah kita, dan kemudian kita mengontrak, hanya agar jangan satu atap dengan orang tua. Lihat, gila kan? Cape-cape kita kemudian bayar angsuran rumah, akhirnya ngontrak-ngontrak juga.

Ya begitu dah dunia.

Ada yang bilang,

(+) Hei, kenapa engkau wahai ustadz menyalahkan dia? Bukankah dia membantu orang tua dan adiknya?

(-) Kelihatannya sih begitu.

(+) Koq kelihatannya?

(-) Ya, emang.

(+) Emang pegimana?

(-) Begini. Kalau ketika dia bekerja, dia ga lupa sama Allah, itu namanya ujian dari Allah. Dan insya Allah itu adalah kebaikan dari Allah. Tapi kalau selama dia kerja, dia tidak ingat sama Allah, maka sesungguhnya Allah mengazabnya. Allah tungguin apa yang dia kumpulin itu benar-benar lunas, lalu Allah ambil serta merta dengan cara-cara yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

(+) Wah, kalo gitu jahat ya Allah?

(-) Ya, tidak. Mana lah jahat? Daripada diazabnya nanti di akhirat? Kan repot.

(+) Ukurannya apaan?

(-) Shalat ga dia? Kalau dia jawab: shalat, maka shalatnya seperti apa? Kalo shalatnya sering di akhir waktu, ya sama saja dengan tidak menghargai Allah. Kita kan disuruh syukur. Masa kemudian sama Allah malah mengurangi waktu. Sedang sama dunia, ditambah terus jam untuk mencarinya. Lihat lagi, sedekahnya gimana? Sebelum kerja, sedekah seribu, istilahnya. Kemudian, setelah kerja, masih seribu. Ini kan tidak bersyukur disebutnya.

(+) Oh, kalau begitu, termasuk firman-Nya ya: Bersyukurlah kamu, maka akan Aku tambah nikmat-Ku padamu. Tapi kalau kalian tidak bersyukur, maka sesungguhnya azab Allah teramat pedih.

(-) Nah, itu tahu.

Ya begitu tuh dunia. Dunia dipegang, dia berontak. Didekap, malah menendang. Diburu, malah maju memukul. Dilayani, malah memerintah. Dikejar, malah memerangkap. Dia menyerahkan dirinya, tapi dunia itu menipu. Sesunguhnya dia tidak pernah menyerahkan dirinya. Dunia hanya mempermainkan manusia. Makanya Allah menasihati untuk jangan tertipu urusan dunia. Banyak-banyak beramal saleh, sebab itu yang lebih kekal.

Masih kelihatan sentimentil ya?

“Nanti malah menghalangi orang mencari dunia loh.” begitu kata sebahagiannya yang lain.

Ah, biar saja. Mudah-mudahan ada yang terbuka mata hatinya. Bila selama ini hidup untuk dunia. Kini, hidupnya di dunia, tapi untuk Allah, Yang Punya Dunia. Ia jadikan dunia sebagai sarana ibadah kepada Pemilik Dunia.

Esai besok kita mulai menukik bicara tentang shalat dan kualitas shalat kita. Berturut-turut kita juga akan bicara tentang doa, hingga kemudian ke definisi-definisi tauhid berdasarkan kitab-kitab; al Qur’an dan al Hadits. Insya Allah.
Yusuf Mansur

February 12, 2009

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 11 - Memberi Perintah Kepada Allah

Kunjungan Pondok

Peserta KuliahOnline yang dirahmati Allah, kita akan mulai belajar tentang mengenal Allah di dalam kehidupan yang nyata. Tidak ada pintu belajar mengenal Allah kecuali kita belajar tentang shalat dulu. Harusnya. Insya Allah kajian tentang shalat ada di Kuliah Dasar tersendiri. Namun di Kuliah Tauhid ini ditekankan pengenalan secara rasa, secara filosofi, secara psikologi, dan secara apa yang saya alami dan rasakan ketika saya berusaha mengenal Allah. Adalah kebohongan adanya buat saya yang mengaku mencari Allah, mengenal Allah, tapi kemudian shalat saya payah. Maka sedemikian kerasnya usaha saya untuk berusaha bisa shalat tepat waktu dulu. Baru kemudian saya mempelajari bahagian-bahagian shalat secara detail dengan memohon kepada Allah bimbingan-Nya. Apa yang saya rasa, saya dapat, saya share menjadi bahagian dari esai-esai Kuliah Tauhid. Selamat membayangkan kedekatan Saudara dengan Allah manakala Saudara sudah bisa melompat khawatir, bahwa Allah datang, sementara kita tidak berada di tempat. Apa maksudnya dari kalimat saya ini, silahkan renungkan tiga esai yang saya sertakan sebagai bahan kuliah hari ini.
Hari ini ada mulai banyak tamu yang datang berkunjung ke saya, mengikuti Program Kunjungan Pondok ke Pondok Daarul Qur’an, atau sekedar bertamu. Mudah-mudahan kedatangan para tamu membawa berkah tersendiri bagi pondok dan bagi para tetamu sendiri. Juga memberi maslahat bagi lingkungan. Amin.
Semalam, tgl 4 September, saya juga sudah pindah ke dalam lingkungan Pondok. Semoga bisa mendekatkan diri saya dan keluarga ke lingkungan pondok. Alhamdulillah saya bisa menyewa/mengontrak rumah Pak RW yang berlokasi persis di pintu masuk Sekolah Daarul Qur’an Internasional (Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an – Daarul Qur’an). Puji syukur kepada Allah. Para tetamu juga sudah disediakan ruang-ruang untuk menunggu, sambil menikmati sajian-sajian kegiatan pondok untuk diikuti. Seiring dengan perkembangan materi, mudah-mudahan banyak ragam kegiatan yang bisa diikuti sambil berkunjung ke pondok ini. Keberkahan mudah-mudahan mengiringi kita semua.
***

Memberi Perintah Kepada Allah


Tidak ada pekerjaan terpenting dalam kehidupan kita
kecuali menunggu datangnya shalat, dan menyegerakan shalat.


Dalam satu dialog ada yang bertanya kepada saya bahwa tanpa sadar kita sering memberi perintah kepada Allah. “Tahu ga Ustadz, perintah apa tuh kira-kira?”.
Saya memilih diam. Menikmati nasihat yang sedang datang ke saya. Sejak awal bicara, saya memilih belajar saja.
“Perintah yang dimaksud, perintah tunggu…” katanya melanjutkan.
Pembicaraan saat itu sedang membicarakan shalat tepat waktu. Saya langsung merespon membenarkan. “Iya juga. Perintah tunggu ya?”
Coba aja lihat, kata orang ini. Ketika Allah memanggil, lewat muadzdzin, kita masih asyik dengan dunia kita. Tidak sadar bahwa Allah sudah memanggil kita untuk sujud dan ruku’ menghadap-Nya. Sebagian lagi mendengar, tapi tidak bergerak. Sebagiannya malah tidak bisa lagi mendengar. Tertutup oleh kesibukannya bekerja, berusaha dan mencari dunia.
Bener. Rupanya kita ini memberi satu pengkodean terhadap Allah, di hampir di setiap 5 waktu shalat. Yaitu pengkodean perintah “TUNGGU”. Luar biasa.
Jadilah Allah “Menunggu” kita. Sungguh tidak ada pantas-pantasnya. Masa Allah disuruh menunggu kita, iya ga?
***
Perintah “Tunggu”

Tidak ada yang lebih penting di dunia ini yang harus kita kerjakan kecuali shalat.
Shalatlah pekerjaan utama kita, sedang yang lainnya adalah pekerjaan sambilan.


Apa yang terjadi dengan diri Anda ketika Anda mendengar Azan? Apakah langsung bergegas memenuhi panggilan azan tersebut, lalu melaksanakan shalat? Atau biasa-biasa saja? Kalau Anda tidak segera bergegas menyambut seruan itu, maka ketahuilah kita termasuk yang berkategori memberi perintah kepada Allah. Yaitu perintah “tunggu” tersebut.
Perintah “tunggu” kepada Allah ini berarti: # Tunggu ya, saya sedang melayani pelanggan. # Tunggu ya, saya sedang nyetir. # Tunggu ya, saya sedang menerima tamu. # Tunggu ya, saya sedang nemani klien. # Tunggu ya, saya sedang rapat. # Tunggu ya, saya sedang dagang nih. # Tunggu ya, saya sedang belanja. # Tunggu ya saya sedang belajar. # Tunggu ya saya sedang ngajar. # Tunggu ya saya sedang merokok. # Tunggu ya, saya sedang di tol. # Tunggu ya, saya sedang dalam terburu-buru. # Tunggu ya saya sedang tidur. # Tunggu ya, saya sedang bekerja. Dan seterusnya.
Coba aja berkaca kepada diri sendiri, dan kebiasaan ketika menghadapi waktu shalat. Perintah tunggu inilah yang kita berikan kepada Allah. Adzan berkumandang… Allahu akbar, Allahu akbar… Bukannya kita bergegas menyambut seruan itu, malah Allah kita suruh menunggu…
***
Siapa sih kita?

Sesiapa yang tidak mengusahakan shalat di awal waktu, sungguh dia adalah orang yang tidak mengenal Allah. Rizki-Nya lah yang selalu kita cari. Pertolongan-Nya lah yang sedang kita butuhkan. Dan Allah datang di setiap waktu shalat membawa apa yang kita butuhkan, memberi apa yang kita inginkan, di luar kebaikan-Nya yang bersifat sunnatullah.

Kita ini, manusia, makhluk ciptaan Allah. Diciptakan dari saripati tanah. Kita ada, lantaran ada hubungan yang diizinkan Allah dari hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian terjadilah kita. Ya, dari sperma, kita menjadi manusia. Makanya Allah menyindir di surah Yaasiin ayat ke-77, bagaimana mungkin manusia yang diciptakan dari saripati tanah lalu tiba-tiba menjadi pembangkang? Menjadi pendurhaka kepada Allah?
Tapi ya begitulah. Kita ini emang manusia yang ga tahu diuntung dan ga tahu diri. Kita ga kenal siapa kita. Lihat saja, berani-beraninya kita “memerintah” Allah untuk menunggu kita. Iya kan?
Sedangkan, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, seorang kopral, ga boleh dia memerintah sersan. Sersan, ga boleh memerintah kapten. Mayor, tidak bisa memerintah Jenderal, dan seterusnya. Hirarki itu, terjadi. Bahkan, seorang polisi yang berdiri di pinggir jalan, lalu lewat mobil jenderal, lalu dia tidak mengangkat tangan tanda hormat, maka secara kesatuan, ini akan jadi masalah buat dia.
Nah, sekarang, tanya, siapa kita, dan siapa juga Allah? Terlalu amat sangat jauuuuuuhhhhh hirarki kedudukannya. Lah, bagaimana mungkin kemudian kita membiarkan Allah menunggu kita, atau kita memberikan perintah tunggu kepada-Nya, untuk menunggu kita? Astaghfirullah.
Insya Allah orang bisa rada selamet soal shalat, ketika bisa berpikir begini, “Jangan sampe Allah menunggu saya. Kalo bisa, saya yang menyambut Allah. Sebab ga ada pantes-pantesnya. Masa Raja Diraja, Pemberi Karunia, yang dirindukan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya, yang dinikmati rizki-Nya, lalu jadi yang menunggu saya? Emangnya, siapa saya?”.
***
Renungkan tiga esai ini dulu ya sebagai bahan kuliah hari ini. Kepada Allah kita berharap sejak ini TAUHID kita BUNYI. Maksudnya, ilmu tauhid kita itu nyata, berpengaruh ke kehidupan kita. Yakni manakala kita berusaha mengenal Allah di saat Allah datang saja dulu di waktu shalat.

Likulli syai-in baabun. Wa baabut taqorrub ilallaahi, ash-sholaah; segala sesuatu ada pintunya. Dan pintu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah itu adalah shalat.

Yusuf Mansur

January 19, 2009

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 10 - Hidup Bersama Allah

Luangkan waktu bersama Allah. Semakin banyak waktu yang diluangkan bersama Allah, semakin bagus kualitas hidup kita. Apalagi bila kita mau menambah kualitas kedekatan itu dengan ilmu dan amal salih.

Alhamdulillah, Allah hadirkan bulan puasa dari 12 bulan yang Allah berikan. Di bulan puasa ini, boleh dibilang manusia terkoneksi terus sama Allah. Ketika dia puasa saja, paling tidak seseorang “nyambung” mulai dari sahur, sampe mau tidur. Gerakan batinnya, gerakan niatnya, gerakan fisiknya, terjaga dengan apa yang disebut puasa. Ketika kita tidur pun, pikiran kita setidak-tidaknya berpikir untuk jangan sampai tidak bangun sahur. Itu sebabnya kita kemudian bisa bangun sahur. Sebab kondisi kita “siap bangun”. Di bulan puasa, kita ingat mengaji. Di bulan puasa, shalat sunnah sayang terlewati. Di bulan puasa, baca al Qur’an disempet-sempetin. Di bulan puasa, para lelaki ngebela-belain shalat berjamaah. Para ibu, para istri, menyiapkan makanan berbuka dan sahur. Sedekah juga bertebaran di bulan ini. Subhaanallaah, sungguh bulannya amal salih. (Perkara seseorang kemudian mengisi puasanya atau tidak, itu perkara lain. Dengan berpuasa saja, lalu tetap mengambil amalan-amalan yang wajibnya saja, sebenernya itu sudah cukup mengantarkan seseorang menjadi terhubung sama Allah. Tentu saja, semakin banyak kita dalam beramal, akan semakin baik score-nya. Semakin bagus kita mengisi, semakin baik nilainya).
Andai seperti ini hidup kita di bulan-bulan berikutnya, masya Allah, alangkah bagusnya. Hidup bersama Allah. Rizki insya Allah kebuka.
Saya semalam menangis. Di 2 lokasi Pesantren Daarul Qur’an; di Kampung Bulak Santri dan di Kampung Ketapang (dua-duanya berjarak dekat, tidak berjauhan), berlangsung tarawih 1 juz 1 malam. Sebab saya menangis, ada beberapa hal. Di antaranya barangkali saya terlalu bahagia. Ga kebayang dalam hidup saya, bahwa saya dan kawan-kawan diamanahi berkah yang luar biasa; memimpin dan mengelola pesantren hafalan al Qur’an. Dan memasuki puasa, setiap malam berlangsung tarawih 1 juzan yang memang sudah lama saya idam-idamkan. Suara imam-imam saban malamnya, suara anak-anak santri, segala rupa amalan warga pesantren, masya Allah, sungguh ini membahagiakan sekali. Ditambah lagi saya yang alhamdulillah bulan ini banyak mengurangi jadual untuk berkonsentrasi di tengah-tengah para santri dan asaatidz. Wuah, ada kedamaian sendiri. Ada di tengah anak-anak dan para asaatidz pondok yang hatinya, pikirannya, gerakannya, adalah menuju Allah.
Saya betul-betul mengundang kawan-kawan jamaah semua untuk mengagendakan acara-acara keluarga, acara-acara kantor, dan pengajiannya untuk diselenggarakan di pesantren. Saya tidak menjanjikan apa-apa, kecuali mudah-mudahan berkah dari amalan harian pesantren bisa dibawa ketika berada di sana dan kemudian bisa dibawa pulang itu keberkahan. Suasana pesantren sering mendatangkan kedamaian. Di pesantren manapun ia, termasuk di Pesantren Daarul Qur’an.
Rasanya, kita emang perlu waktu khusus dan tempat-tempat khusus, plus lingkungan yang khusus, yang memang bisa membawa kita untuk bisa terpengaruh untuk bisa hidup bersama Allah.
Waba;du, Para Peserta KuliahOnline yang berbahagia, saya menemukan banyak manusia yang menyibukkan dirinya dengan urusannya. Bahkan ketika bermasalah pun tidak kunjung mendekatkan dirinya dengan Allah.
Kalau bisa, dalam keadaan bagaimanapun kita, mestinya kita sadar untuk memulai perjalanan mencari Allah. Bukan sekedar ditempuh. Tapi dikebut.
Kita kejar dosa kita, kita kejar kehidupan yang nyaman di kehidupan kedua nanti setelah kita meninggal. Apalah lagi buat kita-kita yang sadar bahwa kita-kita ini emang manusia-manusia yang masya Allah, dosanya gede banget-banget.
Kebiasaan-kebiasaan di bulan puasa, terus saja kita jalankan, baik di bulan puasa ini, maupun nanti setelah bulan puasa meninggalkan kita. Mulai dari bangun shalat shubuh lebih di awal. Supaya bisa shalat malam, witir, istighfar dan membaca al Qur’an menunggu waktu shubuh. Supaya bisa tertegak shalat sunnah tahajjud, witir dan baca al Qur’an.
Jalankan ini semua sampe ia menjadi kebiasaan buat kita. Menjadi habit buat kita.
Ini pula lah yang mau dikejar dalam Riyadhah 40 hari menjadi kaya. Bahwa selama 40 hari kita bungkus diri kita dengan apa yang dinamakan “taqorrub ilallaah”, mendekatkan diri kepada Allah.
Jalankan segala ibadah sampe kita sendiri larut dalam keasyikan menjalankan ini. Sesiapa yang menjalankan dengan hati, insya Allah -- sering saya bilang -- Allah akan berikan kenikmatan “lupa bahwa diri kita sedang bermasalah”. Ingat-ingat, mudah-mudahan Allah sudah men-take over masalah kita. Lupakan keinginan kita, kita berjalan saja menuju Allah. Sadar-sadar, perjalanan ikhtiar kita mencapai keinginan, tau-tau dah nyampe.
Bagi jamaah peserta kuliah, kita belajar meyakini, kalaulah sampe kita-kita ini bermasalah hidup di dunia ini, lalu masalah kita itu bisa mengantarkan kita menjadi mengingat Allah, ga apa-apa juga. Terlalu mahal tebusannya bila tiada dapat mengingat Allah, meskipun bergelimang harta dan bagus jabatan.
Boleh jadi di antara saudara yang melakukan ibadah-ibadah mengaku belum ada tanda-tanda masalahnya bisa selesai. Namun sesuatu yang pasti, ketenangan yang luar biasa, Allah akan berikan kepadanya. Ketika seseorang berhutang misalnya, bisa saja terjadi satu demi satu mereka yang ia punya hutang kepadanya, membaik dan menjadi kawan. Menagih tetap menagih. Insya Allah selalu ada saja kemudahan yang membuatnya masih terasa punya banyak waktu. Kita-kita ini harus yakin, pertolongan Allah bakal datang juga kepada kita.
Dan inilah yang semestinya kita kejar. Allah. Bukan solusi buat permasalahan kita dan bukan jawaban dari keinginan kita. Tujuan kita, kita kembalikan lagi. Yaitu Allah. Hanya DIA. Bukan yang lain.
Bila kita bisa MENGUBAH HALUAN HIDUP, maka lompatan besar sesungguhnya sudah terjadi. Yakni, Pemilik Segala Solusi, yaitu Allah, sudah ia dapatkan. Dan ini lebih mahal dari apapun di dunia ini.
Ya, ini juga perlu saya garis bawahi, bahwa ubahlah haluan hidup kita. Kalau kita mengejar solusi dan mengejar keinginan, kita akan letih dibuatnya. Kita kejarlah Allah. Insya Allah, Dia akan menyediakan jawaban-jawaban-Nya untuk kita.
Maka pesan saya buat diri saya dan buat semua Peserta KuliahOnline, luangkanlah waktu untuk bersama Allah. Sesering mungkin. Semakin kita meluangkan waktu untuk Allah, maka hal aneh yang akan terjadi, selain kita sendiri semakin punya banyak waktu untuk menikmati hidup ini, pun hidup kita akan sepi dengan sendirinya dari masalah-masalah yang memenjarakan kita punya hidup.
Kalau kita pikir-pikir ya, kurang apa kita coba? Kerja keras udah, kerja cerdas udah, tapi kenapa hidup kita jauh dari berkualitas? Jawabannya ternyata, tujuan hidup kita bukanlah Allah. Saya orang yang tidak percaya bahwa seseorang yang menapaki kesuksesan, lalu layak disebut sukses, apabila kehidupannya rapuh. Saya orang yang tidak mau memakai ukuran dunia. Dunia seringkali merenggut hidup kita. Jabatan direksi memang kita sandang, tapi tarohannya mahal sekali; keluarga, kesehatan kita, kesenangan kita, dan yang paling mahal dirampas adalah waktu untuk kebersamaan kita dengan Allah.
Kalau kita semua tidak segera mengubah haluan hidup kita, pastilah kita akan semakin jauh dari Allah subhaanahuu wata’aala.
Berikut ini tips untuk saya dan untuk kita semua:
  1. Biasakanlah untuk memulai pagi dengan shalat dhuha dan membaca al Qur’an. Sibuk, ya sibuk. Tapi kita harus bisa mengendalikan diri. Kesibukan ga ada habisnya. Sedari malam pun kita jejak, lalu kita masih korbankan pagi kita, dunia tidak akan pernah cukup buat kita. Kita boleh bilang bahwa keluarlah dari rumah sepagi mungkin. Namun saya akan menambahkan, tapi sempatkanlah diri kita untuk bisa shalat dhuha dan baca al Qur’an, barang seayat dua ayat.
  2. Waktunya shalat nanti, shalatlah. Tinggalkanlah semua urusan jual beli, urusan perniagaan, urusan pekerjaan, urusan dunia. Tinggalkan itu semua untuk segera shalat menghadap Allah. Dunia diurus ga ada habisnya. Shalat 5 waktu, harus lebih penting buat kita daripada yang lain. Inilah tauhid. Jangan bangga menjadi yang terdepan, tapi di urusan shalat menjadi yang paling belakang. Kalo bisa, kalau sedang dianugerahi usaha, pekerjaan, anak buah, perusahaan, atau karunia-karunia lain, jadilah motor penggerak bagi sekeliling untuk sama-sama shalat menghadap Allah. Yakinkah semuanya bahwa Allah itu lebih penting dari semua urusan dunia. Shalatlah tepat waktu. Bila shalat tidak tepat waktu, terlalu jauh kita memutar kemudi untuk kembali di tracknya. Contoh, kita sering ketinggalan shalat ashar di jam 5 sore. Berarti kan 2 jam telatnya? Katakanlah 5 shalat waktu dikali telat 2 jam, maka dalam sehari, kita telat 10 jam. Ibarat orang yang adu lari, maka kita akan kalah 10 jam. Dalam satu bulan, 300 jam. 300 jam itu lebih kurangnya 12-13 hari. Bisa dibayangkan betapa kalahnya kita mengejar dunia bila kita sering telat shalat dalam 12 bulan. Itu berarti ketinggalan kurang lebih 150 harian ngitung gampangnya. 150 harian itu sama dengan ketinggalan 4 bulanan. Lebih bahaya kalau kita sering telat shalat sejak akil baligh. Katakanlah umur kita saat ini 30 tahun, dan akil baligh dihitung dari umur 10 tahun, berarti kita akan kalah 40 bulan. 40 bulan itu 4 tahunan. Wajar saja kita mundur di dunia ini, sebab langkah kita, telat 4 tahunan. Belom lagi kalo dihitung meninggalkan shalat, meninggalkan puasa, meninggalkan berhaji hanya gara-gara tidak siap, atau ditambah lagi dengan dosa-dosa dan maksiat, wuah, barangkali konversiannya bisa 10-20 tahunan. Bayangkan, harusnya, kita susah tuh selama itu. Tapi karena Rahman Rahim Allah-lah, kita masih bisa tertawa, masih bisa tersenyum, masih bisa makan minum enak. Subhaanallaah, Maha Pengasih benar Allah, dan Maha Pemaaf.
  3. Bikin doyan diri dengan shalat sunnah qabliyah ba’diyah. Jangan mudah meninggalkan qabliyah ba’diyah. Kebanyakan atau keseringan meninggalkan qabliyah ba’diyah, akan menyebabkan kita menjadi orang-orang yang jauh rizki dan tidak bertambah rizki. Rizki kita mau bertambah, tapi shalat tiada mau bertambah.
  4. Menjelang tidur, berwudhulah, perbanyak zikir dan istighfar kepada Allah. Ingat-ingat dosa. Ibarat jalan, kita balik lagi kembali ke Allah dan mengembalikan semua urusan kepada Allah. Doa menjelang tidur kan begitu. Di antaranya Innii ufawwidhu amrii ilallaah; aku menyerahkan sepenuh-penuhnya segala urusan kepada Allah.
  5. Jangan lupa. Niatkan bangun malam, sebagaimana kita mengincar waktu sahur takut-takut kita kepayaha di siang harinya ketika kita berpuasa. Kita bangun malahlah, dengan satu kecemasan di hati dan pikiran kita bahwa kalau kita tidak bangun malam, maka hidup kita akan payah di siang harinya ketika kita bekerja dan berusaha. Dan di saat bangun malam inilah sesungguhnya titik 0 hidup kita dimulai. Bila langkah dalam hidup ini dimulai dari shalat shubuh jam 05.30, maka itu berarti kemunduran buat kita. Melenceng malah. Bedanya berapa jam tuh? Lihat penjelasan perihal hitung-hitungan kalau shalat kita telat, udah 4 tahunan. Kalau perjalanan kita dihitung dari jam 3 dinihari waktu tahajjud bagaimana? Maka ia menyumbang perjalanan kemunduran kita lebih kurang sebanyak 2 jam setengah dikali 30 hari dalam sebulan, dikali 12 bulan dalam setahun, dan dikali berapa umur akil baligh kita. Masya Allah, panjang bener garis hidup kita melencengnya! Ini belom dihitung bulak beloknya kita ketika kita hidup. Adakalanya kita menuruti hawa nafsu, adakalanya kita mengikuti syetan. Tambah panjang tuh. Saya sering mengilustrasikan begini. Ada seorang manajer yang hidupnya udah lempeng. Tapi kemudian dia tergoda memperkaya diri. Akhirnya, jabatan manajer yang 10 tahunan ia kejar, harus hilang. Kalau kemudian ia harus meniti karir lagi untuk sampai ke jenjangnya, berapa lama lagi? Ukuran normalnya ya 10 tahunan lagi. Dan biasanya perjalanan kedua akan lebih berat lagi, utamanya kalau tetap Allah tidak ridha.
  6. Kejar ketertinggalan dengan amal saleh. Cari jalan-jalan yang bisa kita kemudian tercatat sebagai orang-orang yang beramal saleh, berbuat kebaikan. Jadilah bahagian dari orang-orang yang ikut ngumpul bersama orang-orang yang senangnya beramal saleh. Kalau perlu, jadilah kepala lokomotif yang membawa gerbong kebaikan. Agar kekejar itu ketertinggalan selama hidup kita haluannya ga bener.
Ok, sampe ketemu lagi di esai berikutnya. Insya Allah kita akan belajar sedikit “meninggalkan dunia”, tapi tetap mendapatkannya. Bingung kan? Ya, besok saja jawabannya. Insya Allah.

Yusuf Mansur

December 10, 2008

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 09 - Ubahlah Bersama Allah

Ucapan Terima Kasih

Peserta KuliahOnline yang berbahagia. Alhamdulillah, bayi saya, Muhammad yusuf al haafidz sudah pulang di hari pertama Ramadhan atau bertepatan dengan 1 September 2008 setelah sejak tanggal 17 Agustus 2008 lalu harus menginap di rumah sakit.
Subhaanallaah. Makasih doa-doanya. Beruntunglah saya memiliki keluarga besar jamaah semua yang peduli dan perhatian kepada saya. Insya Allah saya pribadi membiasakan mendoakan saudara-saudara semua. Dengan cara mengirimkan suratul faatihah sebagai doa. Malah tidak jarang saya bacakan surah yaasiin, dan lalu saya katakan kepada Allah, ya Allah kirimkanlah segala fadhilah ayat-ayat-Mu yang saya baca ini untuk segenap jamaah kami. Baik yang langsung maupun yang tidak. Baik yang rajin datang ke pengajian di pondok, atau yang tidak. Baik yang dekat maupun yang jauh. Baik yang masih terjalin silaturahim maupun yang sudah putus sebab satu dua hal. Dan juga kepada para donatur pesantren.
Masya Allah. Saya pernah mendengar, doa terbaik itu salah satunya adalah doa untuk orang lain. Maka kata para guru, doa itu akan dikembalikan kepada kita menjadi doanya para malaikat Allah untuk kita. Sekali lagi, masya Allah. Alhamdulillah.
***
Ubahlah Bersama Allah

Apa-apa kalau sendirian, pasti susah. Dan apa-apa kalau dikerjakan secara tim, pasti lebih mudah. Apalagi Allah sebagai partner kita. Subhaanallaah.

Melanjutkan kajian esai Kuliah Tauhid terdahulu, di mana kemaren kita belajar tentang kisah perubahannya seorang sekuriti sebab ia ubah kebiasaannya beribadah dan menjalani sedikit ilmu yang didapatnya dengan keyakinan tinggi.
Maka bila diresapi bersama itu tulisan, seharusnya menginspirasikan satu hal buat kita. Bahwa setiap orang bisa berubah dengan mudah, asal dia tidak sendirian mengubah keadaan dirinya. Berubahlah bersama orang-orang yang positif, yang mampu bersama-sama menuju perubahan. Apalagi bila kita mau berubah bersama Allah.
Ya. Ubahlah bersama Allah. Jangan hanya mengandalkan otak saja. Apalagi otot. Andalkan juga kekuatan doa, kekuatan ibadah, dan kekuatan amal saleh. Dalam bahasa yang lebih sederhana, setiap orang yang mau berubah, ubahlah juga porsi doanya, porsi ibadahnya dan porsi amal salehnya. Apalagi kalau perubahan itu bisa diniatkan dari sekarang, alias nawaitu nya dibenerin, dilurusin, wuah, perubahan itu adalah perubahan yang diridhai Allah. Misalnya, nawaitu kan bahwa kalau kehidupan berubah, maka perubahan ini akan ia bawa ke hal-hal positif; ingin lebih menyenangkan keluarga, orang tua, agar lebih banyak anak yatimnya, agar lebih banyak sedekahnya, agar mudah datang ke pengajian, agar bermanfaat lebih besar lagi buat agamanya Allah, buat orang-orang sekitar.
Tidak bisa seseorang berubah, tanpa adanya perubahan. Sedang memperbesar porsi mikir, porsi kerja, porsi usaha, porsi tenaga, akan membuat manusia keletihan. Ia tidak akan punya banyak waktu untuk menikmati perubahan itu. Yang lebih sering terjadi adalah orang tersebut akan terjebak pada terus menerus di dalam suasana ikhtiar menuju perubahan itu. Kalaupun terjadi perubahan, maka yang akan menikmati adalah orang lain. Bukan dia.
Jadi, kalau ditanya, apakah saya bisa berubah, ya jawabannya, bisa. Seberapa lama perubahan bisa dicapai, dan seberapa bagus kualitas perubahannya, tanya saja seberapa besar dan berkualitasnya usaha untuk menuju perubahan itu.
Perubahan apa sih yang dimaksud?
Perubahan apa saja yang dikehendaki;
- Keluarga sakit-sakitan.
- Pekerjaan yang bergaji kecil.
- Usaha yang tiada menguntungkan.
- Dagangan rugi terus.
- Ngajuin modal ga pernah tembus.
- Bangkrut.
- Keluarga yang tidak harmonis.
- Hidup dalam kungkungan hutang.
- Hidup tanpa pendamping hidup.
- Rumah tangga tanpa anak.
- Miskin.
- Selalu kurang.
- Selalu hina di mata keluarga, saudara dan tetangga.
- Berketurunan dari orang-orang rendahan, kepengen anak tidak seperti kita.
- Kepengen anak lebih maju dari kita hidupnya
Dan seterusnya, mengubah hidup ke arah yang lebih baik.
Sekali lagi, tempuhlah jalan yang berbeda dengan yang orang lain tempuh. Tentu saja bekal-bekal “dunia” ya dijalani. Tapi jangan pake hanya kekuatan dunia saja. Ya itu tadi, cepet lelahnya. Tempuhlah jalan-jalan seperti yang sudah disebut di atas, gunakan tambahan kekuatan doa, kekuatan ibadah, kekuatan amal saleh. Teliti kekurangan dan kelemahan dari sisi ini, supaya ada perbaikan. Ketika ada perbaikan, maka perubahan adalah milik Anda!
Masih belum paham ya? Gini, perubahan yang paling gampang diidentifikasi adalah perubahan ibadah. Bila Anda jadi rajin membuka al Qur’an, rajin membuka buku-buku hadits, ada jam-jam tambahan bercengkrama bersama Allah, sedekahnya bertambah, shalat-shalat sunnahnya juga bertambah, kebaikan-kebaikan pada sekitar bertambah, maka bisa dipastikan, sebentar lagi perubahan benar-benar akan terjadi.
Buat Anda yang bertambah dan berubah, tapi frekuensi ibadah dan amal saleh menjadi berkurang dan melemah, itu sebenernya tanda-tanda kemunduran. Coba saja dirasakan. Dirasakan pake ukuran hati. Pake ukuran kebahagiaan yang hakiki.
***
Bentuk Konkrit Perubahan

Setiap perubahan, butuh langkah konkrit

Seorang kawan bertanya masih seputar bentuk konkritnya atau langkah konkritnya menuju perubahan tersebut.
Maka saya katakan begini, jika posisi Anda saat ini hidup dalam suasana sakit-sakitan, lakukanlah petunjuk-petunjuk “dunia”; berolahragalah, jagalah/perhatikanlah makanan yang dimakan, istirahat yang cukup, dan seterusnya.
Terhadap “langkah-langkah dunia”, istilah saya mah orang-orang yang tidak memiliki Allah pun sanggup melakukannya. Tapi, kalau hanya melakukan langkah-langkah dunia ini, maka perubahan yang sesungguhnya tidak akan pernah bisa dinikmati, kecuali apa yang sekedar kita rasakan saja.
Buat yang perlu penjelasan lagi, begini. Andai kita sakit, lalu kita berobat. Insya Allah sesuai dengan sunnatullah-Nya, kesembuhan itu bisa saja kita dapatkan. Tapi, bila hanya berobat saja, tiada berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, maka tiadalah yang bisa kita dapat kecuali kesembuhan itu saja. Yang demikian itu sama bila seseorang “hanya bekerja”. Tentu saja ia bisa mendapatkan gaji. Yang tidak punya Tuhan pun akan mendapatkan gaji bila ia bekerja. Namun, sebagai seseorang yang menginginkan Perubahan Besar, maka tiadalah cukup ia bekerja sekedar bekerja. Ia perlu “nilai”. Supaya tidak sekedar bekerja. Saya pernah membesut satu seminar tentang kehidupan yang judulnya: Memaknai kehidupan.
Baiklah, contohnya terlanjur contoh hidup sehat. Maka, langkah konkrit dalam kasus kepengen hidup sehat, selain menempuh cara-cara dunia, cobalah ubah bersama Allah dalam menuju hidup yang sehat, tidak sakit-sakitan dengan cara melakukan hal-hal berikut ini;
- Pergiat doa. Cari waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Selepas shalat wajib misalnya. Jadilah orang yang rindu dengan waktu shalat, sebab kepengen berdoa setelah usai shalat. Langsung munajat setelah berhadapan dengan Nya di dalam shalat. Syukur-syukur bisa berdoa selepas shalat hajat, dhuha dan atau bahkan tahajjud. Lebih bertenaga.
- Bila sebelum sakit-sakitan malas-malasan shalatnya, sering telatnya ketimbang tepatnya. Lebih sering malasnya ketimbang rajinnya. Lebih sering sendiriannya ketimbang berjamaahnya… Ubahlah. Jadilah orang-orang yang betul-betul bergiat berubah di urusan yang disebut ini. Datang ke Allah sebelum waktunya. Artinya, sebelum azan, coba datang kepada Allah. Sambut Allah. Jangan sampe Allah menunggu. Kitalah yang menunggu Allah, sebab kita ada keluhan yang ingin disampaikan kepada Nya. Jika sebelumnya kita tiada khusyu’ shalatnya, dan tiada ada usaha untuk khusyu’, kini kita shalat dengan hati dan pikiran kita, bahwa kita shalat membawa penyakit kita untuk diberi Nya kesembuhan.
- Bila sebelumnya shalat-shalat sunnah malas benar tertegak, maka hidupkanlah shalat-shalat sunnah. Mulai dari qabliyah ba’diyah, dhuha, dan seterusnya. Kalau perlu ambil shalat-shalat sunnah yang jarang orang kerjakan; shalat sunnah tasbih, shalat sunnah syukur wudhu, dan lain-lain. Bila sebelumnya sudah shalat dhuha, tapi masih dua rakaat, tambahin jadi empat. Kalo tadinya sudah empat, jadikan delapan, dan seterusnya.
- Bila sebelum sakit-sakitan sedikit anak yatimnya, cari lagi anak yatim yang lain sebanyak yang kita mampu sebagai tambahan. Bila sebelum sakit-sakitan, ada sedekahnya, maka sekarang pas sakit-sakitan, tambahin sedekahnya.
Dan kebaikan-kebaikan lain, seperti menjadi ayah yang baik, ibu yang baik, bagi anak-anak Anda, diintrospeksi, diteliti kekurangannya, lalu kebut di sisi ini untuk menjadi ayah dan ibu yang lebih baik lagi. Atau ketika posisi Anda adalah anak, perbaiki hubungan Anda dengan orang tua Anda. Suami menjadi suami yang lebih baik lagi ke istri. Istri menjadi lebih baik lagi ke suami. Tetangga ke tetangganya, saudara ke saudaranya. Insya Allah, perbaikan-perbaikan yang lebih bersifat mental, akhlak, moral, dan atau perbuatan dan sikap sehari-hari inilah yang akan membuat ikhtiar Anda menuju perubahan dan perbaikan hidup menjadi mudah. Mudah, sebab ada keridhaan Allah di sana.
Nanti akan terjadi keajaiban-keajaiban-Nya yang tahu-tahu Anda sudah hidup semakin sehat. Misalnya, di perjalanan ikhtiar menuju sehat, ada seorang kawan yang mereferensikan sesuatu yang ternyata cocok dengan Anda sehingga Anda memperoleh kesehatan sempurna.
Hal-hal di atas bisa diterapkan juga pada kasus-kasus yang lain. Pokoknya, bagi siapa yang menempuh jalan untuk menghadirkan pertolongan Allah, maka Allah akan hadirkan jalan-jalan di luar jalan yang selama ini ia tempuh.

Yusuf Mansur

November 25, 2008

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 08 - Tauhid Yang Menggerakkan Iman Yang Menggerakkan Bergerak Menuju Allah


Banyak yang mau berubah,
tapi memilih jalan mundur.

Dalam Kuliah Tauhid ini saya mengajak peserta KuliahOnline untuk segera bangun menuju Allah. Benahin apa yang bisa dibenahin. Ada yang bertanya, waduh saya ga ngerti apa-apa nih? Dosa melulu, ga paham ngaji, ga paham ibadah. Ga apa-apa. Jalan saja. Pergi saja ke Allah. Sebisanya. Artinya ya mulai saja shalat seshalat-shalatnya, sepuasa-puasanya, sengaji-ngajinya. Insya Allah ketika kanal materi selain esai Kuliah Tauhid ini dibuka, itu sama saja dengan pembekalan akan dibekali saban hari. Dan insya Allah ragam kuliah akan membuat lengkap bekal berjalan menuju Allah.
Bergerak. Artinya berjalan menuju Allah. Berusaha membenahi ibadah. Buat peserta KuliahOnline yang saat ini jaya, sehat, keluarganya utuh, rizkinya banyak, inilah saat-saat terbaik menabung sebanyak-banyaknya amal. Ibarat orang menabung, nabung terus. Saatnya memakai tuh uang yang ditabung, tinggal datang menghadap teller, dan pake dah tuh uang. Dah tersedia. Atau malahan tinggal mencet dengan ujung jari lewat keypad atau keyboard (mobile banking atau internet banking). Maka demikianlah pula amalan kita.
Kapan amalan akan sungguh-sungguh kita pakai? Nanti ketika sakratul maut. Itulah babak baru yang sesungguhnya dari kehidupan kita. Saat itulah sungguh sangat diperlukan semua amal. Masya Allah. Mudah-mudahan Allah mengasihi kita semua. Banyak di antara kita yang mengeluh tentang keadaannya di dunia ini. Tapi dia tiada berpikir tentang kemaksiatannya kepada Allah. Dia tiada berpikir betapa malasnya dia beribadah, sementara rizki Allah mengalir keras. Shalat wajib dilakukan di akhir. Tanpa hati. Shalat sunnah? Wuah, entah sudah berapa waktu shalat-shalat sunnah tiada tertegak sempurna. Kadang shalat sunnah, kadang tidak. Dan barangkali lebih banyak tidak tertegaknya dibanding tertegaknya.
Wahai diriku yang mengaku memiliki Allah sebagai Tuhannya. Engkau dituntut untuk beribadah. Karena engkau diciptakan untuk beribadah. Tapi lihatlah, engkau selalu khawatir soal-soal dunia. Tidak khawatir soal-soal akhirat. Saatnya kini engkau membuka mata. Ada yang lebih penting ketimbang soal hutang, jodoh, karir, kerjaan, rumah tangga, anak keturunan, rumah tempat tinggal, perniagaan, kekayaan. Ada yang lebih penting dari itu semua. Yaitu bagaimana kita kembali kepada Allah dalam keadaan amal banyak, diterima dan meninggal dalam keadaan hati yang bersih, diri yang diampuni dan husnul khatimah.
Dan ketika seorang hamba bergerak menuju Allah, melakukan amalan-amalan yang mengantarkannya dekat dengan Allah, maka subhaanallaah, pada saat bersamaan Allah akan angkat setinggi-tingginya derajatnya. Dunia akan Allah serahkan kepada siapa yang Dia percayai. Andaipun ada yang mendapatkan dunia-Nya, padahal ia tiada ahli ibadah malah banyak maksiat, maka sesungguhnya kesengsaraan dan kenestapaan akan menjadi haknya. Tinggal tunggu waktu saja. Atau malah sudah, tapi dia tidak merasakan itu. Dan sebaliknya, bila yang belum kunjung mendapatkan anugerah dari Allah, sabarlah. Semua ada waktunya. Dan anugerah terbesar buat mereka yang mendekatkan dirinya kepada Allah, adalah kedekatan diri itu sendiri! Dunia menjadi tiada arti buat mereka yang menempatkan Allah di atas segala-galanya. Atau, ayo mari kita koreksi lewat pembekalan-pembekalan materi sebelumnya dan husnusdzdzan ke Allah, bahwa Allah subhaanahuu wata’aala berkenan mengampuni dan menyuci dosa-dosa kita dulu, sampe kita kemudian pantas diangkat derajatnya dan diberikan segala yang kita hajatkan. Baarokawloohu lanaa.
***
Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tetidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya: “Nanti di depan ke kiri ya”.
“Masih banyak, Pak Ustadz”.
Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya pengen pipis.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti. “PakUstadz!”. Dari jauh ia melambai dan mendekati saya.
Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.
“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…”. Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.
“Saya ke toilet dulu ya”.
“Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?”
“Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?”
“Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz”.
Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang “berhentiin” saya. Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.
Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, “Ok, ntar habis dari toilet ya”.
***
“Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?”, tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.
“Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”
“Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya”.
“Wah, ustadz langsung nembak aja nih”.
Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.
“Udah shalat ashar?”
“Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja”.
“Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?”
Sekuriti itu senyum aja.
Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.
“Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini”, saya mengejar.
“Ya, kurang lebih dah”.
Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang ‘alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu. Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.
“Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari senang”.
Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara?
Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.
Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.
Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, “Terus, mau berubah?”
“Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?”
“Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya”.
“Ngebut gimana?”
“Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe keduluan Allah”.
Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini. Kan aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.
“Yang kedua,” saya teruskan. “Yang kedua, keluarin sedekahnya”.
Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. “Pak Ustadz, pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan”.
“Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?”
“Satu koma tujuh, Pak ustadz”.
“Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede”.
“Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz”.
“Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?”
“Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz”.
“Koq bisa?”
“Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt”.
“Terus, kenapa masih kurang?”
“Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak”.
“Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?”
“Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz”.
“Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot”.
Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu. Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.
“Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?”
“Mau Ustadz. Saya benahin dah”.
“Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin. Ikutan semuanya ngebenahin shalat”.
“Siap ustadz”.
“Tapi sedekahnya tetap kudu loh”.
“Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada”.
“Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq”.
“Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya”.
Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah.
Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, “Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?”. Si sekuriti mengangguk. “Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?”. Sekuriti ini ngangguk lagi. “Selama saya bisa, saya akan jalanin,” katanya, manteb.
“Gajian bulan depan masih ada ga?”
“Masih. Kan belum bisa diambil?”
“Bisa. Dicoba dulu”.
“Entar bulan depan saya hidup pegimana?”
“Yakin ga sama Allah?”
“Yakin”.
“Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau”.
Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya. Termasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al Qur’an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum’at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!
Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya.
Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga. Ga kebagian.
***
Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya.
“Mana bisa?” kata komandannya.
“Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani”.
Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.
Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini pom bensin. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, “Buat sedekah katanya Pak”, begitu kata komandannya.
Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh bos nya.
“Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya”, begitu lah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.
Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya. Malah tambah cerah muka nya.
Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.
Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.
Suatu hari bos nya pernah berkata, “Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma”.
Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.
Berhasil kah?
Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.
“Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren”.
Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.
Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan.
Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.
Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Ga perlu kasbon.
Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini.
Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.
Saudara-saudaraku sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya.
Subhaanallaah, masya Allah.
Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia. Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.
Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.
Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai penutup.
Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat keluarga dan kawan- kawan di sekeliling saudara semua. Saya merapihkan tulisan ini di halaman parkir rumah sakit Harapan Kita. Masih di dalam mobil. Sambil menunggu dunia terang. Insya Allah hari ini bayi saya, Muhammad Yusuf al Haafidz akan pulang ke rumah untuk yang pertama kalinya. Terima kasih banyak atas doa-doanya dan perhatiannya. Mudah-mudahan allah membalas amal baik saudara semua.
Dari semalam saya tulis esai ini. Tapi rampungnya sedikit sedikit. Ini juga tadinya bukan esai sekuriti ini yang mau saya jadikan tulisan. Tapi ya Allah jugalah yang menggerakkan tangan ini menulis.
Semalam, file yang dibuka adalah tentang langkah konkrit untuk berubah. Lalu saya lampirkan kalimat pendahuluan. Siapa sangka, kalimat pendahuluan ini saja sudah 10 halaman, hampipr 11 halaman. Saya pikir, esai ini saja sudah kepanjangan. Jadi, ya sampe ketemu dah di esai berikutnya. Saya berhutang banyak kepada saudara semua. Di antaranya, saya jadi ikut belajar.
Semalam saya ikutan tarawih di pesantren Daarul Qur’an internasional. Sebuah pesantren yang dikemas secara modern dan internasional. Tapi tarawihnya dijejek 1 juz sekali tarawih. Masya Allah, semua yang terlibat, terlihat menikmati. Ga makmumnya, ga imam-imamnya, ga para tamu dan wali santri yang ikut. Semua menikmati. Jika ada di antara peserta KuliahOnline yang pengen ikutan tarawih 1 juz ini, silahkan datang saja langsung ya. Insya Allah saya usahakan ada. Sebab saya juga kebagian menjadi salah satu imam jaganya. Ya, kondisi-kondisi begini yang saya demen. Saya kurangin jadwal, tapi masih tetep bisa ngajar lewat KuliahOnline ini. Dan saya masih sempet mengkader ustadz-ustadz muda untuk diperjalankan ke seantero negeri. Sementara saya akhirnya bisa mendampingi para santri dan guru-guru memimpin dan mengembangkan pesantren Daarul Qur’an ini.
Ok, kelihatannya matahari sudah mulai kelihatan. Saya baru pulang juga langsung dari TPI. Siaran langsung jam 5 ba’da shubuh tadi. Istri saya meluncurnya dari rumah. Doakan keluarga kami ya. Saya juga tiada henti mendoakan saudara dan jamaah semua.

Yusuf Mansur

November 12, 2008

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 07 - Perjalanan Tauhid Perjalanan Keyakinan

Tanggal 30 Agustus 2008, diselenggarakan pertemuan tatap muka (kopi darat) antar-peserta, pengelola web, dan saya. Tapi saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Peserta KuliahOnline yang datang di pertemuan kemaren sore sebab saya harus keluar dari pesantren.
Subhaanallaah, saya berdoa semoga semuanya menikmati sajian Allah di dalam kehidupan pesantren yang mereka berada di dalamnya. Ketika saya memonitor lewat handphone, terdengar suara asaatidz pondok beserta para santri yang mengaji surah al Waaqi’ah yang mudah-mudahan diikuti oleh semua Peserta KuliahOnline. Maghrib dan isya juga dilakukan di pesantren bersama-sama dengan para calon Penghafal al Qur’an yang dibina di Daarul Qur’an.
Saya meminta maaf tidak bisa menjamu kawan-kawan semua dengan sempurna sebab ketidakhadiran saya. Sungguhpun kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi tetap saja semua beranggapan kurang asem garem. Sebab sayanya tidak hadir. Padahal biasanya kan memang juga tidak hadir, he he he. Namanya juga KuliahOnline, he he he. Dan saya kira, sebab-sebab yang begini inilah kemudian dicari sistemnya dalam sistem Online. Sesuatu pelajaran dan atau pengajian yang digelar tanpa kehadiran fisik. Alhamdulillah, acara kemaren sore berjalan juga satu dua misi. Di antaranya mempertemukan peserta KuliahOnline dengan tim IT WebOnline dan juga bertemunya para peserta KuliahOnline satu sama lainnya dari berbagai entitas dan daerah. Dan saya kira ini adalah salah satu manfaatnya juga. Apalagi mereka bisa makan makanan pondok. Sesuatu yang barangkali jarang-jarang terjadi bagi sebagian yang lain.
Waba’du, saya udah usahakan untuk hadir. Ketika saya tetapkan tanggal 30, sesungguhnya itu juga adalah doa buat bayi saya. Saya berharap Allah subhaanahuu wata’aala memulangkan bayi saya di siang harinya. Biar kedatangannya di sore hari di rumah bisa disambut para santri, asaatidz dan tamu-tamu istimewa saya; peserta KuliahOnline. Saya undang juga beberapa komunitas Wisatahati di sana, seperti Peserta Pesantren Riyadhah, Peserta Kuliah Tatap Muka nya Wisatahati yang sempat diselenggarakan (sementara udah ditutup), dan beberapa simpul donatur. Ternyata Kehendak Allah lain. Saya masih bersama bayi saya. Dan malah saat itu, terjadi hal-hal yang sungguh akhirnya saya malah pulang ke rumah jam 23.30!!! saya harus memainkan peranan sebagai ayah yang baik, suami yang baik, anak yang baik, mantu yang baik, pimpinan pondok yang baik, bahkan kawan yang baik bagi seorang kawan yang mau bunuh diri pada malam itu! Wuah, komplit. Saya berdoa kepada Allah agar peserta KuliahOnline yang datang kemarenan bersilaturahim diberikan keberkahan tersendiri sebab kedatangannya ke tempat yang banyak sekali amal di dalamnya (pesantren).
Alhamdulillah, di situasi-situasi seperti ini (full-traffic) akhirnya Allah mengizinkan KuliahOnline ini berjalan. Salah satu manfaatnya adalah ketidakterbatasannya waktu. Bagi yang tidak bisa mengakses harian, ia bisa mengumpulkan dalam beberapa hari. Baru kemudian diikuti materinya dalam hitungan sekali belajar sekian materi. Namun saran saya, akan tidak efektif rasanya belajar seperti itu. Itu kan sama saja saudara belajar di SMP-SMU tapi ga masuk-masuk. Sekalinya masuk, di beberapa hari menjelang ujian saja. Luangkanlah waktu Saudara. Insya Allah apa yang Saudara pelajari dan apa yang Saudara akan pelajari, bermanfaat untuk kehidupan saudara dan keluarga saudara. Apalagi bila saudara berkenan sedikit repot dengan membagi pelajaran-pelajaran yang saya bagikan ini kepada orang lain. Insya Allah akan bertambah-tambah banyaklah amal kebaikannya. Dan itu pun, kalau Saudara berkenan membagi-bagikan pelajaran, dicicil juga. Jangan dikasihkan sekaligus. Saya khawatir. kalau dikasihkan sekaligus, akan menjadi bacaan biasa. Tidak merupakan kuliah berseri yang akan membentuk kepribadian. Haus ya haus. Tapi ya biasa aja. Biar ga kembung, he he he. Sementara tetap ada banyak yang bertanya, kenapa sih engga dibuka aja kanal-kanal materi lain? Kan materi-materi itu juga bisa dicicil belajarnya? Engga. Saya bertahan untuk memberikan kuliah-kuliah fundamental ini. Dan saya berdoa agar semuanya diberi kesabaran.
Tentang kejadian bayi saya, ada cerita menarik yang saya akan tuliskan sebagai esai kuliah mendatang. Saya menulis ini habis shubuh. Subhaanallaah, sebelum tahajjud saya sempat bermain dengan Muhammad Kun Syafi’i, kakaknya Muhammad Yusuf al Haafidz bayi saya. Kun baru berusia 1 tahun 1 bulan. Dia sudah punya adik lagi, he he he. Produktif ya. Saya menyempatkan berbagi tengokan. Kadang ke pesantren di Bulak Santri. Kadang ke pesantren di Ketapang. Dua tempat yang merupakan karunia buat negeri ini. Di keduanya berkumpul santri-santri yang menghafalkan al Qur’an untuk disebarluaskan lagi ke seantero buminya Allah.
Di edisi mendatang, Kekuasaan dan Keajaiban Allah di bayi saya, mudah-mudahan menjadi pengajaran buat kita bahwa Allah itu memang patut diyakini Keberadaan-Nya dan ga boleh lagi ada keraguan! Sungguh, Dia ada banget-banget. Ga jauh-jauh dari kita. Bahkan di surah al Waaqi’ah yang kemaren Peserta KuliahOnline baca bersama para santri, ada bahagian ayat yang berbunyi: “Dan Kami sesungguhnya teramat dekat dengan kalian, tapi kalian tidak bisa melihat”.
Tapi sebelum saya jadikan kondisi bayi saya dan apa yang terjadi di seputaran waktu terakhir-akhir KuliahOnline ini saya selangkan sebagai materi kuliah, kita bahas dulu materi kuliah sambungan yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bismillah ya. Kita berdoa terus agar Allah semakin memperkenalkan diri-Nya dengan diri kita dan semakin sayang kepada kita, sungguhpun kita sering menyakiti-Nya, sering mengecewakan-Nya, sering bertanya tentang Pertolongan dan Kuasa-Nya, dan sering mengeluhkan tentang rizki-Nya di saat mestinya Dia marah dengan kelakuan kita. Subhaanallaah astaghfirullah.
Oh ya, kali ini istimewa. Saya sajikan langsung 5 esai kuliah yang mestinya saya bagi menjadi 5 esai kuliah buat 5 hari ke depan. Sebelum meneruskan menyiapkan esai hari ini, saya sempatkan membaca imel-imel yang masuk, pertanyaan-pertanyaan yang masuk, ke meja redaksi. Mudah-mudahan kebijakan saya yang sudah saya langgar ini (mestinya tetap esai ringan per pertemuan, dan berlangsung terus menerus selama 41 hari), menjadi sebuah percepatan yang diridhai Allah. Adapun maksud dan tujuan saya adalah sekaligus sebagai bekal masuk ke bulan suci Ramadhan (sewaktu esai ini dinaikkan, adalah satu hari menjelang tanggal 1 Ramadhan, web admin). Memang kuliah ini bukan kuliah khusus tentang Ramadhan, tapi perkara tauhidnya sangat-sangat terkait dengan Ramadhan. Kalaupun tidak terkait, kelak ia akan terkait juga. Harapan saya, agar Ramadhan ini menjadi bulan penuh support dari Allah dalam upaya kita mencari diri-Nya.
Ok, mari kita pelajari 5 esai berikut ini.
***
Bercanda Dengan Allah

Ketika kita dilanda kesusahan, “bercandalah” dengan Allah.

Seberapa percayanya kita sama Allah? Ini yang menjadi pertanyaan tauhid dan iman kita pada-Nya. Allah akan bekerja sesuai dengan kepercayaan kita pada-Nya. Memang kadang sesuatu berjalan “seperti” tidak sesuai kepercayaan kita pada-Nya. Tapi yakinlah, kita akan kaget sendiri manakala kita teguh berdiri pada apa yang kita yakini.
Tahun 1999, saya lepas dari penjara kepolisian. Sebab ada perjanjian tidak tertulis (damai), bahwa unsur pidana akan dihilangkan jika saya menerima kasus ini betul-betul dijadikan kasus perdata. Saya menerima. Padahal saat itu, untuk menerima kasus ini, berat. Saya tidak berada langsung di balik kasus ini. Ini kasus saya yakini sebagai kasus-kasus istidraj. Istidraj ini artinya dimainkan Allah. Kita punya salah di jalan A, tapi Allah hidangkan kesusahan ketika kita berjalan di jalan B. Maka kasus ini saya terima, dengan pertimbangan mudah- mudahan Allah memaafkan kesalahan saya di tempat lain yang barangkali hukumannya adalah ini.
Tapi efek dari penerimaan ini, saya bilang di atas, berat. Apalagi untuk kondisi saya saat itu. Saya harus membayar 86 juta rupiah dalam waktu hanya 1 bulan. Kalau tidak, maka kasus ini dinaikkan lagi, dan terus berlanjut sampe ke LP. Dan saya “diwajibkan” untuk menyerahkan diri sendiri tidak perlu dijemput petugas. Begitu.
Kondisi saya saat itu, sebagaimana saya ceritakan dalam buku “Mencari Tuhan Yang Hilang”, bener-bener minus. Keluarga nyerah. Sebab emang 86 juta itu bahagian dari hutang 1 milyaran yang harus saya bayar. Kawan-kawan juga pada minggir semua. Ga ada. Kemudian bayangan bakal kebayar, ga bakal ada. Boro-boro buat bayar, buat ongkos pulang dari kantor kepolisian menuju rumah transitan (saya belum bisa pulang sebab satu dua hal saat itu) saja saya bingung. Dan setelah pulang nanti, makan apa, pakai pakaian apa, saya bingung.
Saudara-saudaraku peserta KuliahOnline. Kondisi saya saat itu parah. Pakaian, hanya selembar. Bener-bener hanya selembar. Selama 14 hari saya di dalam tahanan, saya tidak ganti baju! Dan tentu saja saya tidak pakai lagi celana dalam, maaf. Duh, hampir nangis nih saya nulis ini. Tapi saya ga bisa nangis. Sebab sambil saya nulis ini, saya sambil jagain si abang Kun (putra ketiga saya yang masih berumur 1 tahun 1 bulan tadi), dan sesekali jawab-jawab sms dari TV dan dari kawan-kawan pondok yang butuh koordinasi cepat. Kalau saya hanya menulis tentang ini, niscaya saya sudah akan menangis.
Tapi perjanjian itu saya iyakan saja. Saya ga mau mikir jauh. Yang penting bisa keluar dulu, he he he. Cuma, saya pasang niat bener. Bahwa saya bener-bener akan bayar.
Nah, saat itulah saya bercanda sama Allah. Saya menikmati betul candaan itu. Deket sekali terasa Allah itu. Dan memang Dia itu dekat.
Begini, kan ketahuan tuh bahwa saya secara hitungan matematis ga bisa bayar? Bila saya ga bisa bayar dalam satu bulan, maka saya harus menyerahkan diri lagi. Tapi darimana nyari 86 juta dalam 1 bulan? Terutama dalam keadaan saya seperti itu? Saat itulah, semua prinsip-prinsip dasar Wisatahati, dimulai dipraktekkan. Tapi belum ditulis saat itu. Di antaranya: konsentrasi jangan di 86 juta. Tapi di pencarian menuju Allah saja; nyari ridha-Nya, nyari ampunan-Nya. Untuk masalah? Jangan dipikirin! Ntar stress sendiri. Sampe sini, kelihatannya ga adil ya? Biar saja. Allah yang tahu hati saya. Sungguh, dengan cara begini, saya justru sedang berikhtiar membayar 86 juta tersebut! Persis dalam waktu 1 bulan. Saya ga tahu saya bisa bayar atau tidak. Tapi yang saya paham, Allah pasti bisa. Jadi, ngapain juga saya pikirin, biar saja Allah yang mikirin! Gitu lah pikiran saya. Biar saja Allah yang urus. Biar saja Allah yang akan menyiapkan sejumlah uang tersebut. Dengan cara-cara-Nya. Bukan dengan cara-cara saya.
Lalu apa yang saya lakukan? Saya melakukan perbaikan dan perubahan di ibadah-ibadah saya saja; shalat ditepatwaktuin, shalat-shalat sunnah qabliyah ba’diyah, dhuha, tahajjud, witir, baca al Qur’an, zikir, dipolin. Ikhtiar saya apa? Ya itu lah ikhtiar saya. Kan susah loh menjaga rutinitas ibadah dalam keadaan puyeng? Iya ga? Yang ngalamin ini yang bisa jawab dah.
Selebihnya, saya menawarkan kepada Allah menjadi tentara-Nya. Saya ngajar sana sini, ngajar al Qur’an, ngajar komputer, ngajar bahasa, ngajar madrasah, dan lain-lain. Gaji-gaji dari kerjaan-kerjaan saya itu, saya polin buat Allah. Saya tahu ga bakalan mungkin cukup kalau saya tabung. Jadi, saya ambil saja buat makan, selebihnya tos-tosan saja buat Allah. Hingga di pertengahan bulan, saya megang uang nih, dari hasil jualan es dan jadi tukang fotokopi. Besarnya 27.500 rupiah. Uang ini saya timang-timang. Saat itu melintas di pikiran saya, mau bercanda sama Allah!
Saya datangi sekolahan di belakang saya bekerja sebagai tukang fotokopi. Saya minta dihadirkan satu anak yatim yang pintar untuk saya bayarin SPP nya bulan itu. Dihadirkanlah satu anak yatim. Permpuan. Namanya Ummi. Saya katakan padanya, bayaran sekolahnya, bulan ini, saya yang bayarin.
Habis saya bayarin itu, saya gelar sajadah. Saya sujud. Saya katakan kepada Allah yang bagi sebagian yang lain kalimatnya mungkin aneh. Tapi bagi saya, biar saja. Itu ungkapan saking deketnya saya sama Allah. Kurang lebihnya, “Ya Allah, saya udah bayarin tuh satu anak yatim SPP nya. Dan Engkau juga tahu, kalau bulan depan, yang tinggal dua minggu lagi, saya ga bisa bayar hutang yang dibebankan kepada saya, maka saya dipenjara lagi. Ya Allah, tinggal Engkau pilih dah. Kalau Engkau masih tetap membiarkan saya bebas, dan ada waktu, maka saya terusin bayarannya tuh anak yatim. Tapi kalau engga, ya saya bayarin lagi. Sebab ga bisa bayar lagi emangnya”.
Habis itu saya bangun dari sujud, dan segar rasanya. Saya yakin sekali Allah tidak akan mengambil keputusan saya ditangkep lagi. Sebab tarohannya anak yatim. Saya tertawa kecil, seraya meminta maaf kepada Allah.
Dua minggu kemudian peristiwa yang saya sempat khawatirkan, tidak terjadi. Ya, saya boleh sombong sedikit. Saya katakan, saya sempat khawatir saja, bukan khawatir. Sebab apa? Sebab saya serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kenapa saya harus khawatir. sudah dengar kan audio yang saya upload? Judulnya: Kenapa Harus Khawatir Padahal Ada Allah? Ya, itulah yang terjadi sama saya.
Nah, karena saya “lolos”, ya saya jalanin janji saya. Saat itu hutang tetap belum lunas. Saya kemudian sadar, doa saya belum sempurna. Kali ini saya sempurnakan.
Saya datang lagi ke sekolah tersebut, saya bayarin lagi SPP anak tersebut. Kemudian saya balik lagi dan sujud, seraya mengatakan (kurang lebih), “Ya Allah, makasih. Udah nolongin saya. Tapi saya hanya bebas doangan sementara. Sebab hutangnya belum selesai. Ya Allah, saya akan tambahin dari sekarang, 1 SPP lagi untuk 1 anak yatim yang lain. Saya mohon kepada-Mu ya Allah, kali ini, dengan wasilah amal ini, bayarkanlah hutang tersebut”.
Subhaanallah, Allah rupanya juga bercanda bersama saya. Masalah itu insya Allah bergulir sempurna penyelesaiannya. Dan tahu ga? Anak yatim kedua yang saya bayarin, namanya Maemunah. Dan Maemunah ini beberapa bulan kemudian jadi istri saya! Maemunah saat saya nikahi, masih duduk di bangku SMP kelas 3. Dan dia satu sekolah dengan si Ummi tadi. Secuplik kisah-kisah saya, saya tebar di berbagai buku saya. Silahkan dikoleksi ya. Saya bukan promosi, tapi sedang jualan, ha ha ha.
Ya sudahlah. Inilah kisah saya. Saya anggap ini kisah perjalanan tauhid. Kisah perjalanan saya mencari Tuhan. Mencari Tuhan yang hilang dari diri saya, dari hati saya. Maka nya kelak kemudian kisah-kisah perjalanan saya diberi judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang.
Di esai KuliahOnline berikutnya, kita akan pelajari kisah hebatnya keyakinan seorang tukang nasi yang kemudian membawanya pada perubahan hidup. Ya saudara-saudaraku, jika kita percaya dan yakin sama Allah, insya Allah hidup kita akan berubah ke arah yang kita kehendaki. Semua memang butuh perjalanan waktu, tapi percayalah, perjalanan waktu ini akan sampai juga. Sampe ketemu di esai berikutnya.
***
Air Gula Untuk Bayiku

Saya yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita. (IS)

Awal tahun 2007, IS menonton TV. Di sana ada saya katanya sedang bertutur, bahwa kalau mau ditolong Allah, tos-tosan saja sedekahnya. Dan insya Allah akan diganti sama Allah dalam 1 minggu. Itu kalau kita percaya Allah menggantinya dalam 1 minggu.
Saat itu, ia ada uang 1 juta. Uang itu sejatinya ditahan untuk tabungan bayar kontrakan yang 2 bulan lagi bakalan habis. Juga susu anak, listrik, dan lain-lain.
IS dan istrinya sepakat untuk menyedekahkan uang itu, dengan segala resikonya.
Sekian minggu ia tunggu keajaiban sedekah, tapi tak kunjung datang. Susu anak sudah ia gantikan dengan air gula. Masa katanya mati. Ia kasih biskuit2 kecil pengganjel makanan. Rasa sesal di hati istrinya selalu ia tepis dengan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menyia-nyiakan iman dan amal salehnya a/ janji-janji Tuhannya.
Keyakinan dan kesabarannya berbuah. Keridhaan bayinya juga meminum air gula, membuat keberkahan Allah datang. Dan datangnya ga maen-maen. Ia dapat order menangani katering 16rb orang 3x sehari, alias katering dengan 48rb porsi per hari. Ini menjadi berkah buatnya. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, uangnya sudah 1 milyar.
Dari dia, ada pesan yang disampaikannya lewat saya. Sekali sudah ditempuh jalan Allah, tidak ada cerita tidak berhasil. Pasti berhasil. Hanya, sabar, dan terus jalani kehidupan ini. Biarlah ia mengalir, melewati tikungan anak sungai yang namanya kesulitan, kesukaran, sebagaimana alaminya alam ini yang berisi dua hal; kesenangan dan kesusahan. Sungai pasti ada ujungnya. Dan inilah yang menjadi keyakinan kita.
Ada juga bumbu kisahnya yang tak kalah menariknya. Di tengah situasinya yang hampir bener-bener game over, hampir mereka ini pinjam uang ke kerabat dekat, atau bahkan orang tua. Tapi mereka ga jadi minjem. Mereka bilang, andai mereka jadi pinjam, maka Allah belum tentu bakal turun tangan. Mereka saat itu pasrah. Andai mereka diusir dari kontrakannya, andai mereka tidak bisa bayar listrik kontrakannya lalu malu kepada yang punya kontrakan, andai mereka tidak bisa membeli susu buat bayinya lalu bayinya jadi sakit, atau mati sekalipun, maka biarlah Allah tahu, bahwa semua ini terjadi sebab mereka berdiri di atas keyakinannya akan janji-janji Allah. Masa iya itu semua akan terjadi? Begitulah IS dan istrinya meyakinkan diri mereka. Dan sekalian saja pikir mereka, mereka betul-betul kosong, supaya Allah segera menunjukkan Kuasa-Nya. Subhaanallaah.
Di saat “bercanda” dengan kesusahannya, IS dan istrinya menawar sebuah rumah bagus. Ga tanggung-tanggung seharga 700 juta, sebagai “alternatif” andai mereka benar-benar diusir dari kontrakannya. Dia tawar rumah tersebut, dan mengatakan akan membayar dalam tempo 2 bulan. Cara bicaranya meyakinkan, sungguhpun si pemilik rumah tidak yakin dengan penampilan pembeli rumahnya. Dan itu kelak benar-benar terjadi. Masya Allah. Bahkan bukan hanya rumah itu yang bisa ia beli tepat waktu. Tapi juga ia bisa membangun satu perusahaan katering dengan aset hampir 20 milyaran dalam tempo hanya 1 tahun. Bahkan untuk tahun 2008, dia memegang kontrak katering yang sangat-sangat besar. Sejumlah 37 milyar rupiah.
Subhaanallaah, alhamdulillah.
***
Menjadi Lemah

Hanya bersandar kepada Allah dan yakin pada pertolongan-Nya, kita menjadi kuat.

IS, sang penjual nasi yang mendapat berkah tersebut, belum tentu mendapatkan berkah yang begitu banyak, andai ada perubahan suasana hati.
Koq jahat bener ya Allah? Hanya gara-gara perubahan suasana hati,lalu berkah amal saleh Allah tidak beri. Ya memang ini akan jadi diskusi panjang. Mudah-mudahan bisa dibahas di lain tempat.
Sekarang, kita coba bahas IS tersebut.
Allah menyuruh kita percaya pada-Nya, mengikuti seruan-Nya, dan bersandar hanya pada- Nya. Lalu IS dan istrinya percaya pada Allah. Dia sedekahkan uang 1jt-1jt nya yang ia punya, padahal uang ini sejatinya untuk bayar kontrakan dan bayar ini itu.
Ternyata, sampe hampir dua bulan, Allah ga balas-balas tuh amal salehnya. Setidaknya menurut pengetahuan dan perasaannya. Kan, kadang begini, Allah sebenernya udah balas, cuma kitanya aja yang ga berasa. Sebab belum tentu juga balasan Allah itu hanya uang. Bisa juga balasannya berupa panjang umur, sehat, anak sehat, keluarga bahagia, dan seterusnya. Tapi oke lah, IS dan istrinya menunggu balasan Allah. Tapi ya itu tadi, balasan Allah ga kunjung datang.
Ketika kesulitan relatif memuncak; Kontrakan udah mau habis, air susu anak sebagaimana diceritakan sebelumnya sudah diganti dengan air gula, mereka berinisiatif untuk meminjam kepada orang tuanya. Tapi mereka urungkan ini. Mereka khawatir mereka menjadi lemah.
Saya mengamini, ya mereka akan menjadi lemah, manakala mereka berpindah sandaran. Mereka udah benar. Bertahan saja dengan kesusahannya itu. Makin susah, makin baik. Biar Allah tahu bahwa mereka jadi tidak bisa bayar kontrakan sebab uang kontrakannya disedekahkan. Biar Allah tahu bahwa anak mereka mengalah minum air gula sebab jatah susunya disedekahkan.
Kondisi-kondisi begini kalo dibawa ke shalat malam lalu diadukan ke Allah, wuah, cakep banget. Bahasanya tentu saja bukan bahasa mengeluh. Tapi bahasa pasrah. Misal, “Ya Allah, kami serahkan uang kami kepada-Mu. Sedang Engkau tahu tidak ada yang kami miliki lagi kecuali itu. Dan Engkau pun tahu ya Allah, bahwa uang itu sedianya untuk membayar kontrakan, susu dan yang lain-lainnya. Ya Allah, andai balasannya adalah ampunan-Mu, kasih sayang-Mu, ridha-Mu, kepanjangan umur kami dalam keadaan sehat dan beriman, maka tidak mengapa ya Allah Engkau tidak membalas sedekah kami dengan uang. Tapi ya Allah, kami pun tahu bahwa Engkau tidak akan mengingkari janji, dan Engkaulah Yang Maha Memberi Rizki, Engkau pula Yang Maha Memenuhi Kebutuhan-kebutuhan kami…”.
Nah, kalo kita sudah melengkapi dengan doa semacam ini, dengan kepasrahan semacam ini, cakep bener tuh. Sayang, kalo kemudian kita “melengkapi” sedekah atau amal kita, dengan malah pindah sandaran ke manusia.
Saya membayangkan, andai IS bener-bener minjam ke orang tuanya, bisa saja IS dapat uang. Tapi kemudian pertolongan Allah tidak akan bener-bener terasa. Beda, kalau udah setengah pingsan, kemudian pertolongan Allah datang, wah, ini baik benar untuk menambah keyakinan dan iman kita. Akan terasa benar pertolongan Allah itu.
Apalagi kenyataannya, belum tentu ketika IS dan istrinya minjam ke orang tuanya lalu orang tuanya menyediakan, atau orang tuanya ada uangnya. Belum tentu. Jangan-jangan malah menjadi lemah kita adanya.
Misal, terjadi dialog yang melemahkan seperti ini. Kita berandai-andai istrinya IS yang maju ke orang tuanya:
(+) Pak, boleh saya pinjam uang?
(-) Suamimu kemana?
(+) Ada.
(-) Kalo ada, koq minjem uang sama Bapakmu ini?
(+) Ada. Tapi uangnya yang ga ada.
(-) Emangnya ga kerja?
(+) Kerja.
(-) Koq kerja ga ada duitnya? Buat apa kerja?
(+) Sebenernya ada sih Pak.
(-) Loh, kalo ada, koq masih tetap minta sama Bapak?
(+) Uangnya disedekahkan dua bulan yang lalu.
(-) Maksudnya?
(+) Ya, dulu ada duit. Tapi ngelihat Ustadz Yusuf di TV.
(-) Apa hubungannya?
(+) Katanya, kalo mau kaya, ya sedekah apa yang kita punya.
(-) Wah, ya engga gitu. Sedekah koq pengen kaya.
(+) Ya, saya juga sudah sampaikan itu.
(-) Terus, suamimu tetap maksa?
(+) Iya.
(-) Ya, sudah. Itu kebodohannya.
(+) Tapi Pak, saya butuh banget uang itu. Buat susu anak. Sama kontrakan.
(-) Ya, minta sama suamimu itu. Berapa uang yang dulu kamu sedekahkan?
(+) 1 juta Pak
(-) Bagus! Bapakmu ini saja ga pernah dikasih uang 1 juta…
Nah, kalo situasi dialog ini yang terjadi, kira-kira apa yang akan terjadi? Lemahlah istrinya, dan tidak baguslah hubungan antara mertua dan mantunya itu. Bahkan, sang istri pun sekarang akan jadi serba salah.
Tapi kemudian IS dan istrinya memilih keep silent. Dia pasrah saja sama Allah. Ya akhirnya kejadian dah apa yang diceritakan di tulisan sebelumnya ini. Wallahu a’lam.
***
Uang bensin yang ditukar 1000x lipat

Allah percaya kepada manusia. DIA berikan dan DIA titipkan alam ini pada manusia. DIA bahkan titipkan rizki dan karunia khusus untuk manusia. Tapi manusia banyak yang tidak percaya pada-Nya.

Sampe mana kepercayaan akan janji Allah itu bisa bekerja untuk kehidupan kita? Sampe tidak ada “koma”nya. Melainkan hanya ada “titik”. Titik ya titik, alias percaya ya percaya. Jangan ada tanda tanya ke Allah. Dan jangan ada keluhan, apalagi sampe terjadi penyesalan. Bahkan pada tataran yang ekstremnya, ketika seseorang sudah percaya sama Allah, tidak usah kemudian mencari jalan yang lain. Lalui saja kehidupannya dengan bergantung penuh pada ketetapan Allah dan berjalan terus dengan kepercayaannya itu. Insya Allah di ujung perjalanan kita, sungguh penuh dengan kejutan-kejutan indah.
Syahdan, seorang buruh pabrik bersedekah 1000 rupiah di akhir pengajian tentang sedekah. Sedangkan uang 1000 ini sedianya untuk membeli bensin yang memang harganya saat itu Rp. 1.700 per liter. Jadi, 1000 rupiah tersebut untuk beli setengah liter bensin. Maklum, hanya buruh perkebunan. Yang penting motornya bisa jalan bolak balik ladang ke rumah, rumah ke ladang.
Tapi hari itu, dia memilih menyedekahkan uang 1000 rupiah itu untuk berharap keajaiban sedekah bisa terjadi pada dirinya. Sungguh ia pun bosan dengan keadaan dirinya. Andai sedekah bisa membuat dirinya bisa banyak rizki, kenapa tidak.
Segala keraguan ia tepis. Termasuk bayangan mendorong motornya apabila bensinnya habis di tengah jalan. Ia mencoba meyakinkan dirinya, bahwa bensinnya pasti cukup membawanya pulang ke rumah. Tapi di saat yang sama, ia pun mencoba menghibur bahwa ia siap saja mendorong motornya itu sampe ke rumah. Inilah yang ia anggap perjuangan sedekah.
Dan apa yang terjadi, baru beberapa ratus meter saja, bensinnya sudah habis. Jadilah ia mendorong motornya itu.
Mengeluhkah ia? Tidak. Ia siap. Maka ia nikmati saja kejadian ini. Ia dorong motor ini dengan enteng, padahal motornya ini VESPA!
Dan pertolongan Allah itu benar-benar nyata. Baru beberapa langkah ia mendorong, ia dihampiri oleh pengendara mobil kijang yang ternyata kawan lamanya yang sedang berkunjung ke kampung tersebut. Oleh kawannya ini, ia dibelikan bensin yang cukup baginya menghidupkan motor. Tidak cukup sampai di situ, pengendara kijang ini kemudian memberikan uang 1jt di dalam amplop tertutup, yang baru ia ketahui jumlahnya ketika ia sampai di rumah. Subhaanallaah, betapa benar janji Allah. Terlebih lagi terhadap mereka yang tetap memegang teguh kepercayaannya kepada Allah.
***
Jangan Memperlemah Diri Lagi

Banyak keadaan-keadaan yang bisa memperlemah iman kita pada janji-janji-Nya. Kiranya kesabaran dan usaha menambah ilmu, akan membuat kita terpelihara.

Saudaraku yang membaca kisah tentang “motor yang kehabisan bensin” sebelum tulisan ini, saya akan mengajak saudara memperdalam situasinya, sambil belajar di mana gerangan kesalahan kita ketika kita menempuh jalan-jalan Allah, jalan-jalan riyadhah. Yaitu banyak di antara kita yang berubah menjadi pemarah kepada Allah lantaran menganggap cara-Nya Allah tidak sakses membuat kita mencapai keinginan kita. Tidak sedikit para pencari pertolongan Allah lalu malah berubah menjadi mengeluh kepada Allah, dan cenderung menyalahkan Allah. Tidak sedikit juga orang-orang yang menjadi lemah sebab bersandar kepada orang lain, setelah ia menyandarkan dirinya kepada Allah. Artinya, ia malah berpaling kepada selain Allah. Langkah yang sudah betul, berubah di ujungnya.
Dan tidak sedikt juga yang berubah sebab ia “keliru” bertanya kepada yang tidak luas ilmunya. Terus terang, saya sendiri juga kadang “kerepotan” dengan pertanyaan-pertanyaan jamaah, yang mana ia konfirmasikan ilmu-ilmu tentang sedekah kepada para ustadz yang “tidak sepaham”. Akhirnya, tidak sedikit mereka yang malah jadi dosa. Sudah mah jadi menyesal, mereka bahkan su-udzdzan kepada saya.
Saya kerap memberitahu, bahwa ketika jalan ibadah; sedekah, shalat-shalat sunnah, dan doa ditempuh, maka ia pasti akan berhasil. Tinggal tunggu waktu. Sambil mengisi waktu, tempuhlah juga jalan kesabaran dan keistiqamahan menegakkan terus ibadah-ibadah tersebut sambil menanti penuh harap kepada Allah Yang Tidak Pernah Mengecewakan.
Baik, sesuai dengan mukaddimah di sub tulisan ini, saya akan ajak saudara memperdalam situasi kisah motor yang kehabisan bensin tersebut.
Pada kasus motor yang kehabisan bensin, ia tidak akan mendapatkan berkah ketemu dengan pengendara kijang andai ia “beralih” kepada bantuan orang lain. Misal begini, setelah sadar bahwa ia “meminjamkan” uang kepada Allah, lalu ia menjadi tahu bahwa bensinnya dikhawatirkan tidak cukup, ia kemudian memutuskan untuk “meminjam” kepada orang lain. Menurut saya, ini sama saja tidak menyempurnakan kepercayaannya kepada Allah. Orang lain menganggap ini sebagai ikhtiar, sedang saya menyebutnya kepercayaan yang lemah. Makin kita pasrah kepada Allah, semakin enak kita “mengadukan” kelemahan-kelemahan kita.
Dan niscaya juga ia bertambah lemah, andai ia benar-benar meminjam kepada manusia. Apalagi kalau orang yang ia pinjam duitnya itu menyalahkan dia. Misal, terjadi dialog:
(+) Mas, boleh saya pinjam uang…?
(-) Buat apa…?
(+) Buat beli bensin.
(-) Lah, emangnya kenapa bensinnya, habis?
(+) Belum. Tapi kayaknya dikit lagi juga habis.
(-) Udah tahu bensin bakalan habis, koq masih dibawa juga motornya.
(+) Tadinya bawa duit Mas. Buat beli bensin.
(-) Sekarang mana duitnya? Koq minjam?
(+) Dipakai buat sedekah. Habis itu, saya ga ada duit lagi.
Orang yang dimintakan duitnya ini barangkali tertawa… “Mas, seribu kali percaya sama si ustadz tersebut, mbok ya mikir. Udah tahu bensin udah mau habis, dan uang tersebut mau digunakan untuk membeli bensin, eh, malah disedekahin. Ini sama saja nyulitin diri sendiri. Coba kalo bener-bener mogok, dan mogoknya bukan karena motornya rusak? Tapi karena bensinnya habis? Sudah mah susah, malu lagi…”.
Pengendara motor ini akan makin tertekan, manakala ia makin disudutkan, “Mas, malah mas ini membuat sulit orang saja. Lain kali kalo mau sedekah, pikirin dulu kebutuhan sendiri. Jangan sampe bikin orang susah saja”.
Wah, coba. Udah mah engga dapet, dihina dan diperlemah pula. Dan orang tersebut tidak salah. Kelihatannya kan betul. Tapi inilah cerita sedekah. Kalo normal-normal saja, ya ga ada keajaiban sedekah.
Taro kata begini, dia minjem, lalu bener-bener dapet pinjaman untuk beli bensin, maka ga bakal ketemu dengan pengemudi kijang yang membuatnya dapat uang 1000x lipat dari yang ia sedekahin. Koq gitu? Lah iya, kan lancar. Ga ada “penghentian waktu” atau “penghentian perjalanan”, sebab bensinnya penuh dan motornya ga mogok. Kalo begini, mana ketemu dengan si pengendara kijang.
Percayalah sama Allah. Tempuhlah jalan-jalan riyadhah. Dan jangan menyisakan sedikit pun ruang di hati, bahwa kita masih butuh bantuan manusia. Kita hanya butuh bantuan Allah saja. Bukan yang lain.

Yusuf Mansur