November 15, 2014

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 17 - Pengaruh Kepada Urusan Yang Lain

Dimarahi Bule

Allah Maha Baik.
Tidak pernah Dia kecewa.

Dalam satu kesempatan pergi lawatan dakwah ke negeri Belanda, saya dan beberapa kawan, ada jadwal untuk ketemu dengan satu relasi di sana. Tempat dan waktu sudah ditetapkan.
Sedari pagi kami sudah siap-siap. Beruntunglah di negeri Belanda itu sistem transportasi sudah baik. Jadi, bisa terukur.
Pada waktu yang telah ditetapkan, kami sampai di tempat yang dimaksud. 15 menitan kami tunggu di tempat itu, tapi si Bule ini tidak nongol-nongol. Kami waktu itu, saling berpandang-pandangan, bertanya-tanya di hati, katanya orang bule terkenal paling disiplin.
Nyatanya ga semua ya. Buktinya kami-kami yang datang sejak awal, harus menunggu. Sudah lewat 15 menit pula.
Ga lama, ada seorang Bule, dan ternyata memang dia. Bule ini datang menghampiri kami, marah-marah. Mukanya serius. Lalu menyebut kira-kira begini, “Bangsa asia, suka telat!”.
Wah, kami tidak terima. Kami sampaikan baik-baik bahwa kami sudah sampe sedari tadi.
“Misternya saja yang telat’, begitu salah satu dari kami tanpa perduli dia ngerti apa engga.
Selidik punya selidik, tempat yang dijadikan point-meeting itu ada dua. Kami salah identifikasi tempat. Sekian menit kami tidak kunjung datang, Bule itu curiga kami salah datang. Lalu mencoba mendatangi tempat yang satunya itu. Dan benar, di sana dia ketemu kami-kami. Tapi tetap saja dia marah! Kenapa engga teliti. Wuah, padahal ini negerinya dia, dan dia tidak memberitahu bahwa tempat yang dimaksud itu ada dua serupa.
Tapi ya sudahlah, cerita ini kan bukan ingin menceritakan siapa yang benar siapa yang salah.
Cerita ini hendak memberikan gambaran, bahwa subhaanallaah, Allah itu benar-benar Maha Baik. Coba kalau Allah itu Pemarah? Duh, habislah kita. Dalam 5x sehari waktu shalat, seberapa serius kita menjaga tepat waktu? Seberapa niat kita menjaga waktu? Seberapa kita mementingkan Allah, lalu menaruh dunia ini di bawah kepentingan pertemuan dengan Allah di waktu shalat?
Kita aja kalo jadi orang tua, lalu kita panggil anak kita untuk makan misalnya, lalu dia tidak bergerak, kita jadi marah. Anak kita suruh mandi, tidak mendengar, idih, kita sebel banget.
Lalu kita ini gimana?
***

Kita Marah Diabaikan

Ketika kita membuat Allah menunggu kita,
bagaimana perasaan kita?
Biasa-biasa saja? Atau gelisah?

Masih seputar telat dan tunggu menunggu. Satu waktu, di antara kita ada yang sebel diabaikan. Jangankan diabaikan. Disuruh menunggu saja, tidak enak. Ada di antara kita yang bilang begini: Ga enak menunggu orang. Apalagi kalo yang ditunggu, ga ada khabar berita.
Tambah kacau lagi, kalau yang ditunggu emang udah track record-nya selalu telat. Akan bertambah sebal lagi, bila persoalannya adalah persoalan yang berat, persoalan yang penting.
Tambah kesellah lagi kita. Bertambah-tambah kekeselan kita, andai gara-gara keterlambatan kawan kita ini, kemudian urusan kita yang lain, jadi berantakan. Tentu sumpah serapah, atau minimal gerutuan dan kekeselan di hati, menjadi nampak ke wajah kita.
Selanjutnya apa yang terjadi? Selanjutnya yang terjadi adalah kawan kita tersebut tidak lagi masuk ke dalam daftar hitungan kita. Kita menjadi hati-hati bila kemudian mengadakan janji dengan dia.
Andai Anda seorang guru, marahlah kita bila kemudian murid pada telat datangnya. Apalagi kalau yang telat itu banyak, dan datangnya satu demi satu. Mengganggu pelajaran.
Andai Anda adalah orang yang lebih penting daripada yang ditunggu, tentu menjadi tidak masalah bila kemudian kita meninggalkan dia, dan merugilah dia. Tapi tetap saja urusannya teramat menganggu. Kita lalu menganggap dia sudah membuang waktu kita yang begitu berharga. Padahal kita ini orang penting, ha, begitulah kita membatin.
Bagaimana dengan Allah? Bagaimana kita selama ini bergaul dengan Allah?
Inilah salah satu pentingnya kita mempelajari ilmu tauhid, ilmu mengenal Allah dari pintu shalat.
Shalat adalah pintu pertama amal yang dihisab. Dia jelek, maka jeleklah seluruh amal dianggapnya. Jika dia bagus, maka baguslah seluruh amal yang lainnya dianggap. Bahkan, di dalam Islam, tidak dianggap suatu kebaikan bila seseorang mengerjakannya tapi meninggalkan shalat. Anggaplah dia sering memberi bantuan dan makanan kepada tetangga.
Tapi dia tidak shalat. Maka, bantuan kepada tetangganya ini tidak bernilai akhirat di mata Allah. Dia hanya disebut orang yang berbuat baik. Ga adil dong Allah? Ga juga. Di dunia dia dapat sunnatullah-nya, bahwa siapa yang menanam kebaikan, maka dia akan menuai kebaikan juga. Namun, jika dia meninggal, maka seluruh kebaikannya itu tidak bisa menyelamatkan dirinya.
Ada seorang yang sama karyawan, masya Allah, dua jempol dah kelakuannya. Sangat baik, perhatian, penuh kasih. Kecelakaan dia, hanyalah dia tidak shalat. Kebaikannya di dunia, sudah Allah aturkan sunnatullah-nya. hidupnya tenang, badannya sehat, pikirannya fresh terus, dan setiap ia menemui kesulitan, ia selalu ada jalan keluar. Sayangnya, kebaikan terhadap karyawannya itu tidak bisa ia bawa mati. Ga ngaruh. Sedang manusia itu ada dosa-dosa lain. Termasuk dosa bila tidak bertuhan Allah. Ini kartu mati buat saya. Ga ada tawar menawar.
Bagaimana jika ada orang yang udah shalat kemudian jadi tidak baik. Maaf ya, bagi saya ini juga clear. Sudah jelas dia dapat keburukan dari keburukan yang ia kerjakan. Meskipun ia shalat. Dan orang-orang seperti ini, bila tidak shalat, akan bertambah-tambah keburukannya.
Ini sekaligus menjadi jawaban sederhana atas perilaku orang modern yang mengatakan ga perlulah syariat-syariatan, yang penting berbuat baiknya. Ga perlulah shalat-shalatan. Yang penting berbuat baik. Buat apa juga shalat jika masih suka nipu. Sama dengan buat apa pake jilbab kalo kelakuannya konyol.
Loh, saya jawab, bahwa buat apanya iya, tapi shalat dan pakai jilbab itu juga penting.
Konklusinya jangan dibawa kepada pembenaran lebih baik berbuat baik saja. Insya Allah kita akan seminarkan hal ini di pertemuan kopi darat ya.
***

Pengaruh Kepada Urusan Yang Lain
 
Shalat amat terkait dengan lain-lain hal di kehidupan ini.
 
Coba perhatikan kalimat di atas: Akan bertambah sebal lagi, bila persoalannya adalah persoalan yang berat, persoalan yang penting. Tambah kesel lah lagi kita. Bertambah-tambah kekeselan kita, andai gara-gara keterlambatan kawan kita ini, kemudian urusan kita yang lain, jadi berantakan. Tentu sumpah serapah, atau minimal gerutuan dan kekeselan di hati, menjadi nampak ke wajah kita.

Banyak yang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu? Bahwa urusan shalat sangat terkait dengan urusan yang lain. Sesiapa yang shalatnya bagus, maka bagus juga kehidupannya.
Sesiapa yang shalatnya lempeng, lurus, bener, maka demikian jugalah hidupnya. Namun, bila ada seseorang yang kemudian menemukan hidupnya berantakan, dan dia pun menemukan bahwa shalatnya memang berantakan, maka demikianlah yang memang bakal terjadi. Shalat, dengan kualitasnya, sangat berpengaruh di kehidupan kita.
Coba aja buktikan. Benahi shalatnya, maka insya Allah hidup pun akan tertata. Coba saja abaikan shalat, dijamin, hidup bakal berantakan. Ada yang ditampakkan ketidakberesan hidupnya, ada yang disembunyikan oleh Allah. Atau, sesungguhnya bukan disembunyikan, tapi orang tersebut tidak diberikan kemampuan untuk merasakan ketidakberesannya. Bahasa agama mah, tidak menyadari. Gitu. Dan ini sama bahayanya dengan tidak mengetahui.
Sebab, kalau telat menyadari atau telat mengetahui, teramat besar kerugiannya.
Para pegawai yang kehidupannya biasa-biasa saja, para pengusaha yang berjalan di tempat dan cenderung turun, para kuli bangunan yang statis hidupnya, para pramuniaga dan kasir dan karyawan-karyawan bawah yang terkunci gajinya hingga berbelas-belas tahun, bisa jadi sebab mengabaikan soal shalat ini. Dan mereka ini terlambat mengetahuinya.
Saya pun termasuk yang telat menyadari perihal shalat ini berpengaruh pada masa depan saya.
Setelah sekian tahun saya bergelut dengan kesusahan saya, tahun 2003 saya berkenalan dengan soal kerapihan shalat; entah itu shalat wajib, maupun shalat sunnah. Bahkan di tahun ini saya mengenal istilah “mencari solusi di atas sajadah’. Ketika yang lain mengatakan jangan hanya doa dan shalat, saya malah “dipenjarakan” oleh pengetahuan yang saya dapat untuk berlama-lama di atas sajadah, dan itu dianggap sebagai “ikhtiar” juga. Masya Allah. Indah.
Yang lain mencari solusi, saya “ditugaskan” oleh hati dan pikiran saya untuk mencari Allah.
Tahun 2003, banyak ulama, banyak kyai, yang mengingatkan saya tentang shalat.
Alhamdulillah. Dan kelak ini akan berpengaruh pada Yusuf Mansur dewasa pasca masalah.
Tidak sedikit yang memberikan wirid dan zikir, atau yang biasa disebut “amalan”, namun tidak mengoreksi soal shalat tamu yang datang mengadu ini. Namun saya tahun 2003 itu malah digedor tentang shalat terus. Datang ke kyai mana saja, seperasaan saya, oleh-olehnya senantiasa soal shalat.
Mu’allim Syafii Hadzami almarhum, salah satunya. Beliau ulama betawi yang sangat masyhur. Saya datang kepada beliau. Dan beliau tahu saya buyutnya Kyai besar: KH. Muhammad Mansur Jembatan Lima. Sebab beliau menjadikan buyut saya ini sebagai salah satu guru yang ditulis di dalam sejarah hidupnya. Sama dengan Abah Anom yang juga mengakui buyut saya ini sebagai guru pribadinya. Namun, ini tidak menghalangi Mu’allim Syafii Hadzami bertanya: “Shalatnya bagaimana?”
Singkat cerita, saya berkernyit juga awalnya ditanya tentang shalat. Jawaban saya, adalah jawaban kebanyakan. Kira-kira saya menjawab, “Shalatlah. Biar gini-gini, sama shalat engga lupa. Sepusing-pusingnya, tetap shalat”.
Rupanya jawaban ini tidak memuaskannya. Sebab ketika beliau kejar dengan pertanyaanpertanyaan lanjutan, didapatlah saya shalatnya sering telat. Malah bahasa tepatnya: biasa telat. Baginya, dan bagi kyai-kyai yang tinggi tauhidnya, telat itu sama saja dengan tidak mengenal Allah dan tidak mengistimewakan-Nya. Kita sudah membahasnya sedikit di beberapa esai kemaren bagaimana rupanya bila kita telat shalatnya.
Keluarlah kemudian nasihat yang kemudian saya populerkan, “Benerin sajadah, insya Allah hidup akan jadi bener. Lempengin sajadah, insya Allah hidup akan lempeng. Solusi dicari, jalan-jalan hidup dicari, shalat engga dibenahin. Terbalik”. Dan saat itu, ungkapan orang-orang tua dulu, seakan hidup lagi di hati saya: “Benahin akhiratnya, ntar dunia ngikut. Lupain akhirat, ntar dunia malah ga kebagian”.
Saya pun bahkan ditegur soal shalat sunnah ketika saya diketahui tidak rajin shalat sunnah (untuk tidak menyebut meninggalkan shalat sunnah). Ya, semakin saya keturunan kyai, mestinya makin tidak pantes shalat saya di bawah mutu. Sebenernya, siapapun ga pantes shalatnya rusak. Namun, ukurannya karena saya dibesarkan di lingkungan kyai, kenapa juga shalat saya ga bener. Begitu.
Terhadap shalat sunnah, selama ini yang saya pelajari sebelumnya, kalau kita kerjakan kita dapat pahala, tapi kalau kita tidak kerjakan maka tidak akan dapat dosa apa-apa. Ternyata saya salah. Saya lalu dihadapkan pada satu teori: bagaimana kalau disebut tidak menghidupkan sunnah? Bagaimana kalau disebut shalatnya tidak mi’raj? Tidak naik kepada Allah, bila dikerjakan tanpa sunnah? Saya pun dihadapkan pada pemikiran lain berdasarkan firman Allah bahwa sesiapa yang mengaku mencintai Allah, kudu ikut sama Rasulullah. Lalu bagaimana mungkin kemudian disebut mengikuti rasulullah bila kemudian tidak berusaha mengikuti sunnah-sunnahnya? Sehingga bagaimana mungkin juga disebut mencintai Allah jika kemudian kita tiada menegakkan sunnah-sunnah Rasul-Nya yang karenanya kemudian dianggap cinta kepada Allah itu belumlah sempurna.

Seperasaan saya, di tahun 2003 itu saya berkenalan ulang dengan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang shalat. Karenanya saya kemudian membuat Kuliah Dasar yang membahas tentang shalat di satu kelompok esai khusus tentang shalat. Saking pentingnya.
Jauh-jauh saya belajar. Tinggi-tinggi saya belajar. Akhirnya ketika saya jatuh, susah, yang ditanya tentang shalat wajib dan diperiksa pula shalat-shalat sunnah saya. Ga ditanya saya S2 di mana? Ga ditanya bagaimana manajemen bisnis saya? Ga ditanya. Yang ditanya, bagaimana shalatnya? Cukup itu sebagai indikator kejatuhan dan kejayaan kembali.
Maka di perjalanan berikutnya, perjalana tauhid buat saya. Buku Mencari Tuhan Yang Hilang kemudian lebih membumi. Sebab pencariannya lewat pintu yang kali ini sudah benar. Insya Allah. Yaitu lewat pintu shalat dulu, baru kemudian bercabang ke pintu-pintu yang lain.
Ada satu cerita yang saya geli bener dibuatnya. Saya ditanya, burung apa yang punya sayap tapi ga terbang? Saya jawab, burung onta. Salah, begitu kata ulama yang saya temui. Burung yang ga terbang padahal burung sayap disebutnya burung bodoh. Dia tidak tahu dia punya sayap.
Saya ditanya lagi, kalau burung yang tidak terbang padahal dia tahu bahwa dia punya sayap? Kali ini saya tidak jawab. “Burung males”, katanya. Udah tahu punya sayap, kenapa dia tidak pakai buat terbang!
Nah, shalat sunnah itu ibarat sayap burung bagi shalat wajib. Ash-sholaatu mi’roojul mu’miniin; shalat itu mi’rajnya seseorang yang beriman. Tapi kemudian shalatnya tidak naik, tidak mi’raj, sebab ga punya sayap. Ga dipake itu shalat-shalat sunnah. Sehingga wajar kemudian ada banyak orang yang shalat, tapi kehidupannya ga berubah. Sebab ga cukup kuat buat mengangkat derajatnya. Masya Allah.
Waba’du, pelajaran ini sungguh sangat mendalam buat saya. Sebab 3 tahun setelahnya saya memperbaiki shalat saya (Ya Allah, Engkau Yang Maha Mengetahui Lintasan Hati Hamba saat bercerita ini), hutang saya lunas. Hidup saya pun meningkat. Allah hadir dalam kehidupan saya, sebab pintu-Nya sudah saya buka. Pintu apa? Pintu shalat. Sudah disebut di esai terdahulu, likulli syai-in baabun, wa baabut taqorrub ilallaahi ash sholaah; segala sesuatu itu punya pintu. Dan pintu pertama untuk mengenal Allah pertama kalinya adalah shalat.
Saya sebut di atas, kelak, ini juga sangat berpengaruh buat saya. Di antaranya untuk soal konselingan. Orang mengenal saya sebagai penganjur sedekah. Padahal aslinya, saya lebih senang menganjurkan perihal perbaikan shalat wajib dan penegakan shalat sunnah.
Khususnya di awal-awal perbaikan seseorang.
Malah kadang saya suka iseng. Ada anak muda datang kepada saya. Ditenteng oleh ibunya.
Disebut bahwa anaknya ini udah kawin. Udah 32 tahun umurnya. Tapi ga kerja. Anaknya nolak disebut ga kerja. Kata anaknya, ga sesuai dengan kuliahnya. Selanjutnya itu anak dan ibu bercerita masing-masing versinya.
Saya kemudian mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di kertas itu, sambil berpesan bahwa lakukan apa yang ditulis di kertas ini. Sebelumnya saya guide, bahwa tidak boleh dilihat ini kertas kecuali sampe rumah. Dan sebelumnya saya tanya kepada dia sebelum saya tulis sesuatu itu. Pertanyaan yang saya tanyakan adalah pertanyaan yang ditanyakan kepada saya dulu. “Bagaimana shalatnya?”. Dijawab oleh anak muda itu, “Iya, Ustadz”. “Iya apa?”, kejar saya. Ia menjawab, iya, berantakan, he he he. Ya udah, saya bilang, pas dah. Ikutin kertas ini, dan pulanglah.
Saudara-saudaraku Peserta Kuliah Online, sering saya sebut percuma kita belajar tauhid, belajar yang lain-lain di Kuliah Online ini, tapi shalat kita belum kunjung kita perbaiki.
Semangat bertauhid adalah semangat memperbaiki shalat kita.
Anak muda itu barangkali tidak menduga kalau yang saya tulis hanya soal shalat; “Jangan tinggal shalat. Dan jangan shalat kecuali berjamaah. Jangan berjamaah kecuali sama sunnah-sunnahnya. Lakukan ini 7 hari ke depan dan kemudian balik lagi ke saya”.

Beliau kira-kira datang senen. Dan kemudian rabunya udah kembali padahal belum 7 hari.
Ternyata beliau cerita, beliau seperti dihentakkan hatinya. Selama ini ia salah mencari. Ia mencari pekerjaan, tapi Allah tidak ia cari. Ia ubah haluan, akhirnya ya nyampe. Hari selasa, alias hanya selang satu hari, ia sudah mendapatkan pekerjaan.
Ya, barangkali Allah berkenan datang secepat itu sebab ia juga punya ibu yang sayang dan perhatian. Melihat dandanan ibunya dan cara ibunya menenteng dia ke saya, bolehlah saya mengira bahwa ibu ini pasti mendoakan terus anaknya. Dan seutama-utama doa adalah yang dipanjatkan setelah shalat wajib. Subhaanallaah.
Besok kita bercerita-cerita ya, tentang orang-orang yang bersentuhan dengan urusan berkah dari perbaikan shalat. Insya Allah. Terakhir mau saya katakan, tidaklah disebut bagus tauhidnya, bila kemudian soal shalatnya rusak. Mudah-mudahan Allah senantiasa memperbaiki amaliyah harian kita, khususnya shalat kita. 

November 14, 2014

Kuliah Wisata Hati Online - Tauhid 16 - Fadilah Iman Kepada Allah

Peserta KuliahOnline, awal Syawal, berbarengan dengan dibukanya pintu materi-materi lain KuliahOnline, website kita akan dilengkapi dengan kolom-kolom tulisan saya di media; Republika, Poskota, Suara Merdeka, Sindo, Gatra (khusus Gatra, tulisan lama), dan ragam tulisan di media lain, baik yang berupa dokumen lama yang bersifat tulisan, maupun wawancara. Insya Allah. Mudah-mudahan tulisan-tulisan di media-media tersebut bisa bermanfaat, melengkapi esai-esai kuliah kita. Amin.
Saya hari ini mempersiapkan materi sambungan tentang perbaikan shalat sebagai implementasi awal bertauhid yang benar. Tapi sebelum kita lanjut ke materi selanjutnya, saya memperhatikan ada pertanyaan yang menarik seputar keyakinan (Bicara Tauhid Bicara Keyakinan). Kemaren kan saya contohkan pembahasan mengenai Umrah Juli. Di mana saya mengajak wali santri untuk sama-sama umrah sekeluarga, dengan menabung bukan biaya umrah, melainkan menabung sedekah umrah. Banyak peserta yang meminta penjelasan lebih lanjut. Meski belum waktunya, tapi baiklah saya akan jadikan ini materi Kuliah Tauhid saja.
***

Fadhilah Iman Kepada Allah
Keutamaan Keyakinan Terhadap Allah
 
Disebut bertauhid manakala kita bisa mempercayai janji Allah sebab meyakini bahwa janji Allah adalah benar. Inilah bahagian tauhid, bahagian dari mempercayai dan meyakini Allah.
 
Begini, teori dasarnya, siapa yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih banyak; 2x, 10, 700x hingga lipatan pengembalian yang tidak terhingga. Keyakinan terhadap janji ini adalah juga bahagian dari tauhid. Semakin kita mempercayai Janji Allah, lalu bekerja dan menunaikan keyakinan ini, maka akan semakin hebat pengaruhnya pada diri kita.
Esai berikutnya sungguhpun terlihat seperti pembahasan tentang sedekah, sesungguhnya ini adalah pembahasan tentang tauhid; tentang keyakinan akan Keesaan, Kebenaran, dan Kekuasaan Allah.
Ada seseorang yang tidak yakin dengan dirinya, tapi dia yakin sama Allah, lalu menjajal. Ini saya sebut separuh keyakinan. Tapi ini saja, bisa sangat-sangat berhasil. Bahkan yang tidak punya keyakinan pun akan berhasil! Hanya saja, kepada mereka yang beramal tanpa keyakinan dan ilmu, akan beda rasanya. Buku terbaru saya: The Miracle, udah terbit. Dan buku ini banyak berbicara tentang hal ini (tauhid). (Tunggu saja ya BelanjaOnline di web ini aktif. Supaya peserta bisa mendapatkan buku ini hanya dengan mengklik ujung mouse dan keyboard saja. Pesan secara online via web kesayangan Anda ini, tahu-tahu buku itu udah di rumah, Web Admin).
Seorang ibu di Jember mengikuti tausiyah saya tentang janji Allah. Yang membuat dia tidak yakin, bagaimana bisa dirinya yang tidak ada siapa-siapa di rumahnya, dan dia tidak bekerja, lalu bisa mendapatkan rizki lebih? Tapi dia memilih percaya saja kepada Allah. “Allah punya sejuta cara jika sudah menghendaki sesuatu”, begitu katanya meyakinkan dirinya sendiri. Dan keyakinannya ini mengantarkannya pada rizki. Dia bersedekah di acara, Rp. 5rb. Dia pulang dengan jalan kaki sebab ongkosnya dipakai bersedekah. Sesampainya di rumah, dia punya rumah dihampiri pengendara sedan yang sudah kebelet kepengen pipis. Selesai pipis, dia diberi Rp.50rb, atau 10x lipat dari yang disedekahkannya.
Peserta KuliahOnline yang dirahmati Allah, ini bukan hanya pengajaran sedekah. Sekali lagi ini pengajaran tauhid. keyakinannya terhadap Allah sudah menggerakkannya bersedekah.
Sungguhpun uang itu adalah untuk ongkos, ia kalahkan. Dan keajaibanpun terjadi.
***

Pernah ada kisah seorang tukang ikan datang meminta amalan agar bisa punya modal lebih.
Ketika ditanya buat apa modal lebih, dijawab supaya ada untung lebih. “Memangnya pasti tuh kalo modal ditambah, untung pasti bertambah?”. Dia ragu menjawabnya. Ya saya tahu, banyak yang memiliki kesadaran bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali aturan Allah. Tapi dia menjawab, “Secara hitungan sih, ya nambah untungnya Pak Ustadz. Tapi ya ga tau dah. Namanya juga nasib”.
Saya lalu bertanya kepada dia, rizki itu dari ikan, atau dari Allah?
“Dari Allah”.
“Minta saja sama Allah tambahan rizki, insya Allah ga kudu pake tambahan modal, rizki pasti nambah”.
“Yah, darimana jalannya Pak Ustadz? Darimana jalannya jika tidak ada tambahan modal?”
“Jalannya bukan nambah modal. Tapi nambah rizki dengan jalan-jalan Allah”.
Keterbatasan pengetahuan seseorang akan sumber rizki menyebabkan rizkinya juga terbatas.
Tapi mereka yang terbatas pengetahuannya akan sumber rizki sebenernya cukup dengan memiliki ilmu tauhid, maka sudah akan bertambah-tambah rizkinya. Yakini saja bahwa Allah akan membukakan pintu rizki yang lebih banyak dan kemudian mau memintanya, maka sungguh, ini cukup baginya untuk bertambah rizkinya. Keyakinan saja kita tidak punya, apalagi amal kali. Barangkali.
Saya menambahkan si tukang ikan ini, “Pak, jalan-jalan Allah itu tidak sebatas tambah modal sebagai jalan yang Bapak yakini sebagai satu-satunya jalan. Sehingga Bapak bertanya darimana kalau tidak nambah modal? Sebab Allah memang tidak perlu sebab untuk menambah dan menutup rizki seseorang. Semua berdiri di atas Kehendak-Nya. Hanya, orang-orang yang beriman dan berilmu, tahu, bahwa untuk menghadirkan Kehendak Allah inilah diperlukan ikhtiar, diperlukan upaya. Nah, salah satu ikhtiar untuk menambah jalan rizki buat Bapak, adalah sedekah. Bahkan jalan ini Allah yang memberitahu, langsung lewat KitabNya, al Qur’anul Karim”.
Sulit bagi si tukang ikan ini memikirkan bagaimana bisa sampai terjadi penambahan rizki.
Tapi tidak sulit baginya mempercayai. Sebab mempercayai adalah menggunakan hati. Bukan akal. Hanya orang-orang yang bisa memahami dengan akal dan mengimani dengan hatilah yang derajatnya akan berbeda.
Terus, karena percaya, tukang ikan ini berjanji akan mencoba untuk bersedekah. Sore harinya (dia dagang pagi hari), dia bersedekah 5rb. Esoknya, ada kejadian. Ada seorang anak muda yang biasa minjem motor, minjem motor. Karena biasa, ya tidak ada yang aneh. “Silahkan,” kata si tukang ikan mempersilahkan anak muda ini memakai motornya. Nah, yang si tukang ikan tidak tahu, Allah lah yang mengatur kejadian ini. Allah Melihat dari Asry-Nya sana, bahwa dari situlah rizki si tukang ikan bisa terbuka. Sedang si tukang ikan, sebagaimana kita, hanya bisa melihat bahwa rizkinya ya dari usahanya, dari mejanya. Tidak punya spektrum yang lebih luas. Kita melihat sebatas mata. Sedang Allah tidak terbatas penglihatannya.
Hanya 15 menit anak muda ini memakai motor itu, sebagaimana biasanya, tapi anak muda ini memberi rizki tambahan, “Bang, makasih ya,” kata si anak muda ini, sambil mengembalikan STNK motor dan uang. Ya, uang! Rp. 50rb.
Peserta KuliahOnline, peristiwa ini bagi si tukang ikan amazing banget. Dia kemaren bertanya, darimana bakal bertambah rizki? Lalu dibawa ke persoalan tauhid. ke persoalan keyakinan, bahwa rizki di tangan Allah. Karena Allah itu di mana saja, maka rizki itu bisa darimana saja. Dan hari ini terjawab!
Begitulah kalau tauhid ini bekerja. Kisah di atas bukan hanya bertutur tentang fadhilah sedekah saja, tapi tentang fadhilah iman kepada Allah, keutamaan tentang meyakini Allah.
*** 

1 tahun yang lalu, ada seorang ibu mau daftar Umrah Ramadhan.
“Sendirian berangkatnya? Suami?,” begitu tanya saya ketika dia mengutarakan akan daftar umrah. Sendirian.
“Suami engga berangkat Ustadz”.
“Suami udah pernah berangkat?”
“Belum”.
“Mana enak berangkat sendirian?”
Ibu itu menjawab dengan senyumannya. Tahulah saya, bahwa persoalannya ada di uang.
“Uangnya ga cukup ya?”.
Beliau mengangguk.
“Udah pernah ke Tanah Suci sebelumnya?”
“Belum”.
“Suami?”
“Belum”.
Wah, kalo gitu, ga usah daftar umrah dah.
Terperanjatlah si ibu ini, demi mendengar saya bicara begini.
Maaf ya, biasanya pemilik travel umrah, mana ada yang menolak rizki. Sebab pendaftar kan berarti rizki. Tapi karena saya bismillah buka travel bukan untuk bisnis semata, maka saya merasa lebih perlu memberi nasihat ibu ini bersedekah ketimbang menerima pendaftaran umrahnya.
“Tapi saya udah kepengen umrah, Ustadz”.
“Iya, tapi coba jajal yang satu ini. Ibu percaya ga bahwa pergi haji itu bukan karena uang?”
“Percaya”.
“Kalau percaya, minta saja sama Allah supaya sekalian berangkat haji saja. Mintanya jangan tanggung-tanggung. Minta berangkat bareng dengan suami”.
“Wah, darimana jalannya Ustadz? Ini saja boleh nabung dikit-dikit”.
Itulah kita, manusia. Pertanyaan darimana jalannya itu pertanyaan yang tidak bertauhid.
Sebab orang mukmin tahu, jalannya itu adalah jalan Allah.
“Banyak Bu jalannya. Dan murah meriah. Kalau kuat berdoa, berdoa sepanjang waktu shalat, jangan kenal lelah dan jangan berhenti. Kalau perlu berdoa dengan menambah jam-jam shalat sunnah. Syukur-syukur mau bersedekah.”
Saya sarankan si ibu ini agar rela menyedekahkan uangnya. Dua-duanya sama-sama pekerjaan sunnat. Sebenernya kalau si ibu ini yakin, dia tetap memilih berangkat, lalu di Tanah Suci dia berdoa yang sama, ya berangkat juga. Namun saya bilang, kurang seru. Masa berangkat sendirian? Tidak ditemani pendamping hidup. Karenanya saya minta ibu ini bertaruh untuk menyedekahkan saja uang yang sedianya untuk umrah ini.
Ibu ini setuju. Uang USD2000 pindah tangan. Sebagiannya untuk pengembangan pembibitan penghafal al Qur’an, sebagiannya untuk anak-anak yatim dan dhuafa di luar pesantren Daarul Qur’an.
Jadi ga beliau Umrah Ramadhan? Tidak. Sebab uangnya ga jadi dipake daftar. Melainkan habis buat sedekah.
1 tahun berlalu. Bahkan lewat. Sebab sekarang ketika saya bercerita, sudah masuk Ramadhan. Sedang saya ketemu dengan ibu ini di bulan Sya’ban. 1 bulan sebelum Ramadhan. Tahun lalu. 2 bulan sebelum Ramadhan, travel haji umrah kami mengadakan manasik haji.
Diselenggarakan di Sekolah Daarul Qur’an Internasional (Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an) yang berlokasi di Kampung Ketapang. Dekat dengan kediaman saya. Tahu ga? Ibu tersebut ada di barisan orang-orang yang ikut manasik haji. Bersama suaminya! Tentu saja saya mengenalinya. Berceritalah dia termasuk di depan calon jamaah haji yang lain, bahwa Janji Allah itu benar.
Tanpa dinyana, ga berapa lama setelah ia sedekahkan uang umrah kemaren lusa itu, Allah bukakan rizki yang buanyak sekali. Ada proyek yang diamanahkan ke beliau, dan keuntungannya melampaui biaya haji. Dia pakai untuk biaya haji dirinya dan suaminya, masih lebih. Ia menganggap kelebihannya itu adalah pengembalian Allah atas sedekah uang umrah, dan kemudian ia masih mendapat bonus lagi 2. Satu, berupa biaya haji berdua dengan suaminya, dan satu lagi keuntungan buat perusahaannya. Masya Allah.
Peserta KuliahOnline, inilah tauhid. kita pernah bicara kan? Bicara tentang tauhid, bicara tentang keyakinan, begitulah saya pernah bertutur di KuliahOnline ini. 

*** 

Nah, terkait dengan persoalan umrah Juli tahun 2009 (saat esai ini ditulis masih 2008, WebAdmin), kita pake cara ini. Cara yakin kepada Allah dan bersedekah. Saat ini September 2008. Yang kita incer, Umrah Liburan, Juli 2009. Masih ada waktu 10 bulan (pendaftaran terakhir Umrah Juli 2009, di akhir Juni 2009). Maka menabunglah. Tapi jangan menabung untuk biaya umrah. Menabunglah untuk “Sedekah Umrah”. Saya katakan kepada wali santri saat itu (saat tercetus ide umrah bareng sekeluarga besar pesantren), bahwa berdasarkan teori dasar siapa yang memberi satu akan mendapatkan 10, maka didapat matematika seperti ini. Santri bernama A, memiliki kakak dan adik 2 orang. Artinya, keluarga ini terdiri dari 5 orang anggota; ayah, ibu, dan 3 orang anak. Niatkanlah berangkat Umrah Liburan nanti. 5 x 15 juta biaya umrah = 75 juta. Kalau punya uang, tidak masalah, tinggal daftar. Bagaimana kalau tidak punya uang? Sedang saya punya mau semua wali santri berangkat bersama seluruh anak-anaknya. Jangan ada yang ketinggalan. Apalagi kalau ga berangkat sebab ga punya uang, jangan sampai terjadi. Kalau tidak punya uang, tempuh jalan tauhid. Tempuh jalan meyakini Janji Allah; doa dan sedekah. Siapa yang mengeluarkan 1, dapet 10. Kalimat ini sama dengan: Siapa yang mau dapat 10, keluarkan saja 1. Maka, kalau diturunin pada kasus ini, siapa yang sedekah 7,5jt akan mendapatkan 75jt. Atau, siapa yang mau dapat 75jt, keluarkan 7,5jt. Bagi mereka yang punya 7,5jt, sekarang-sekarang ini, keluarkan sekarang. Tapi bagi yang tidak punya cash untuk sedekah sebesar 7,5jt, maka cicil saja. Kan masih ada waktu 10 bulan? Bagi saja 10 bulan. Ketemu angkanya 750rb setiap bulannya. Cicil terus sampe bulan Juni. Dan yakini, bahwa insya Allah pada saatnya nanti Allah akan memberikan rizki untuk mendaftarkan umrah sekeluarga. Bila ini yang diyakini, insya Allah akan terjadi apa yang kita yakini,. Inilah tauhid. Meyakini Allah, meyakini Janji-Nya, Keesaan-Nya, Kekuasaan-Nya, kebesaran-Nya. Bahkan, di Buku The Miracle, yang sebagiannya juga dipelajari insya Allah di Kuliah Online, kita meyakini, bahwa bisa saja Allah membayar lunas dulu target kita, permintaan kita, padahal cicilan sedekah kita belum lunas. Atau bisa saja Allah memberi lebih dari sekedar 75jt. Sebab Janji-Nya memang demikian. Dia akan memberi hingga 700x lipat atau bahkan lebih.
***

Peserta KuliahOnline, rasanya tidak salah jika kemudian saya menyeru kepada seluruh walisantri agar memakai betul ilmu yang didapat ini. Bahkan saya menyeru kepada jamaah peserta kuliah, agar juga menerapkan ini. Hitung berapa anggota keluarga Anda semua, dan kalikan dengan biaya umrah. Kemudian kalikan 10% dari total biaya itu. Insya Allah kita ketemu dah di Tanah Suci. Dan saya tegaskan kembali, ketika bicara ini, ini sudah melampaui bicara tentang sedekah. Tapi sudah jauh bicara tentang tauhid. Iman kita tentang tauhid, keyakinan kita tentang tauhid, akan mengantarkan kita mendapatkan keajaiban-keajaiban Janji Allah. Dalam pada itu, saya kembali mengingatkan, bahwa bila semua ini mau berjalan mulus, nomor satu, tetap saja kita harus memperbaiki shalat kita. Ini adalah landasan tauhid. utamanya bila Anda mau menjajal sesuatu yang besar-besar. Benahilah shalatnya dulu. Maka besok insya Allah kita akan meneruskan kembali kajian tentang shalat dengan pengembangan pembahasan dari sisi tauhid. Sampe ketemu lagi besok. Mudah-mudahan panjang umur. Mohon doa dari semua peserta. Kemaren, tanggal 9 September 2008, kami merayakan ulang tahun perkawinan kami yang ke-9, 9th wedding anniversary kami. Masya Allah, makasih doanya selama ini. Doa dari Anda semualah yang juga turut sudah menjaga kami. Baarokawloohu lanaa. Salam.
***